Ubud Writers & Readers Festival 2026: Merajut Kembali Komunitas Melalui Kekuatan Kata-Kata

Semangat awal UWRF terinspirasi dari Edinburgh Festival setelah Perang Dunia Kedua—sebuah gerakan kultural untuk merajut kembali komunitas dan mengatasi luka kolektif melalui dialog.

7 Oktober 2026, 16:19 WIB

Denpasar – Direktur Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), Janet DeNeefe, menegaskan festival sastra tahunan ini berakar dari semangat pemulihan pasca-tragedi Bom Bali untuk menyatukan masyarakat.

Hal tersebut disampaikannya dalam acara konferensi pers yang digelar di Artotel Sanur, Denpasar, pada Rabu, 7 Oktober 2026.

Menurut DeNeefe, semangat awal UWRF terinspirasi dari Edinburgh Festival setelah Perang Dunia Kedua—sebuah gerakan kultural untuk merajut kembali komunitas dan mengatasi luka kolektif melalui dialog.  

“Festival ini pada dasarnya adalah sebuah festival hak asasi manusia yang menyamar sebagai festival sastra,” ujar DeNeefe.  

Di tengah era digital saat ini, di mana komunikasi kerap terhalang oleh layar gawai dan derasnya arus informasi yang terdistorsi, UWRF hadir sebagai ruang temu fisik yang inklusif.

DeNeefe menambahkan  festival ini dirancang sebagai ruang netral tempat publik dari berbagai latar belakang dapat duduk bersama, mendengarkan, serta membangun pemahaman lintas sudut pandang di tengah polarisasi pandangan yang kuat.  

“Pena lebih tajam daripada pedang, dan kata-kata serta komunitaslah yang menghubungkan kita,” pungkasnya menegaskan esensi dan visi jangka panjang dari perhelatan tersebut.

Sementara narasumber lainnya budayawan, praktisi kreatif I Made Marlowe Makaradhwaja BandeBandem memberi pandangan, festival tahun ini akan menyoroti bagaimana Bali berkembang dari masa lalu yang kerap diromantisasi sebagai surga tersembunyi (paradise-lost atau island of gods) hingga menjadi Bali di era kontemporer.

Diskusi ini tidak hanya melihat sejarah dari kacamata akademis, tetapi juga menegaskan bahwa “masa lalu itu tidak pernah benar-benar berlalu” dan masih berdampak pada realitas masa kini.

Sejumlah panel menarik telah disiapkan untuk melibatkan para pemikir, seniman, sejarawan, hingga ilmuwan dari berbagai latar belakang. Beberapa panel utama yang diumumkan antara lain:

Sesi yang menghadirkan para pemikir seperti Ade Darmawan, Yustinus Saputra, dan perspektif lingkungan untuk membedah perkembangan khusus tentang Bali dari masa lalu hingga hari ini.  

The Imagined Transition: Panel yang mengeksplorasi daya cipta baru terhadap tradisi dengan melibatkan seniman lintas generasi, seperti Ayu Laksmi dan Made Krisna, guna menyuarakan keresahan serta menyelaraskan masa depan dengan akar tradisi.  

Eksplorasi Estetika Visual: Diskusi mengenai adaptasi seni rupa, termasuk bagaimana seniman muda yang tumbuh di Batuan mempelajari teknik abstrak dari seniman senior seperti Gede Depu dan Eka Putrajaya.

Festival ini juga secara khusus mengangkat isu adaptasi teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) dalam lanskap kebudayaan Bali, agar para seniman dan masyarakat lokal mampu berselancar di tengah arus globalisasi tanpa kehilangan identitas.

Melalui kolaborasi lintas disiplin ini, UWRF 2026 diharapkan mampu menjadi ruang bagi publik untuk merajut kembali memori kolektif, memperkuat etika dan logika kebudayaan, serta merayakan dinamika seni di Bali secara berkelanjutan.***

Berita Lainnya

Terkini