Waspada Bukan Panik: ‘Super Flu’ Terdeteksi di Sleman, Dinkes DIY Pastikan Kondisi Terkendali

Dinkes DIY mengonfirmasi kasus tunggal super flu tersebut telah tertangani dengan baik dan pasien dinyatakan sembuh total

7 Januari 2026, 18:44 WIB

Yogyakarta– Kabar mengenai temuan virus Influenza A (H3N2) subclade K, atau yang populer disebut “Super Flu”, di wilayah Kabupaten Sleman sempat memicu perhatian publik di awal tahun 2026.

Namun, masyarakat diimbau untuk tetap tenang. Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (Dinkes DIY) mengonfirmasi kasus tunggal tersebut telah tertangani dengan baik dan pasien dinyatakan sembuh total.

Kasus ini menimpa seorang bayi berusia di bawah satu tahun yang berdomisili di Kota Yogyakarta namun tercatat secara administratif di Sleman.

Pasien sempat mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit rujukan akibat demam tinggi dan gangguan pernapasan yang didiagnosis sebagai pneumonia.

Pasien saat ini sudah dinyatakan sembuh sepenuhnya dan telah kembali ke rumah. Secara klinis, penanganan sudah dilakukan sejak awal gejala muncul,” ungkap Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DIY, Ari Kurniawati, Selasa (6/1).

Muncul pertanyaan mengapa kasus yang terjadi pada periode September-Oktober 2025 ini baru terkonfirmasi di awal Januari 2026.

Ari menjelaskan bahwa proses identifikasi varian virus ini memerlukan ketelitian tingkat tinggi melalui metode Whole Genome Sequencing (WGS).

“Pemeriksaan WGS hanya bisa dilakukan di laboratorium nasional milik Kemenkes yang mengelola sampel dari seluruh penjuru Indonesia. Proses ini memang membutuhkan waktu panjang untuk memastikan jenis subclade virus secara akurat,” jelas Ari.

Mengingat pasien adalah bayi yang tidak memiliki riwayat perjalanan, penularan diduga kuat berasal dari kontak erat dengan orang-orang di lingkungan sekitarnya. Hal ini menjadi pengingat penting bagi publik mengenai etika saat sedang sakit.

Dinkes DIY menegaskan, meski ada temuan ini, tidak ada lonjakan kasus serupa selama masa libur Natal dan Tahun Baru.

Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) terus memantau setiap faskes secara real-time. Jika terjadi anomali atau peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan, sistem akan segera memberikan peringatan (alert).

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, varian H3N2 subclade K umumnya memiliki tingkat fatalitas yang rendah dan tidak memicu gejala berat pada mayoritas pasien. Sebagai langkah proteksi, masyarakat diharapkan memperkuat kembali benteng kesehatan mandiri:

Gunakan Masker: Terutama saat sedang tidak enak badan atau berada di dekat kelompok rentan (bayi dan lansia).

PHBS: Disiplin mencuci tangan dengan sabun dan menjaga kebersihan lingkungan.

Daya Tahan Tubuh: Menjaga pola makan bergizi dan istirahat cukup sebagai kunci utama penangkal virus.

Hingga saat ini, pemerintah belum mengeluarkan kebijakan vaksinasi khusus untuk varian ini dan masih mengandalkan vaksin influenza yang tersedia serta penguatan protokol kesehatan.

Kesimpulan: Temuan “Super Flu” di DIY adalah kasus lama yang sudah tertangani. Kunci utama menghadapi virus ini bukan pada kepanikan, melainkan pada ketatnya kembali penerapan gaya hidup sehat di tengah masyarakat. ***

Berita Lainnya

Terkini