Yogyakarta–Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan, menilai tantangan terbesar masyarakat modern saat ini bukan lagi keterbatasan akses informasi, melainkan kedangkalan dalam memaknai realitas.
Hal itu ia sampaikan dalam ceramah tarawih di Masjid Al Hayat, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu 4 Maret 2026 malam.
Dalam ceramahnya, Anies mengatakan persoalan utama bangsa Indonesia saat ini bukan kekurangan informasi, melainkan krisis kejernihan dalam mencernanya.
Ia kemudian membagi fenomena buta huruf dalam dua kategori.
Pertama adalah kelompok yang memang tidak mampu membaca teks. Kedua adalah mereka yang mampu membaca tulisan, tetapi gagal memahami realitas di sekitarnya.
“Akibatnya, banyak pemimpin gagal membuat kebijakan. Bahkan, gagal mendengar jeritan rakyat,” ujar Anies.
Menurutnya, ajaran Islam sejak awal mendorong umat manusia membangun peradaban dengan memahami realitas secara jernih.
Alumnus UGM itu mengaitkannya dengan pesan awal dalam Al-Qur’an yang memerintahkan manusia untuk membaca.
“Manusia diminta untuk menjadi khalifah, tapi pesan itu diawali dengan melihatlah dan membacalah dengan jernih,” jelasnya.
Anies juga mengajak jamaah memperluas makna iqra tidak sekadar membaca teks. Baginya, konsep tersebut harus menjadi sarana untuk mengasah empati serta ketajaman nurani dalam memahami keadaan sosial.
Dalam konteks perguruan tinggi, ia menilai tanggung jawab tersebut menjadi lebih besar. Mahasiswa, kata dia, memiliki ruang untuk mengembangkan pemikiran kritis sekaligus menguji berbagai gagasan.
Kampus seharusnya menjadi rumah bagi pertanyaan, bukan pabrik kepatuhan. Kampus menjadi ruangan eksperimen, bukan gudang menyimpan ilmu masa lalu.
“Karena itu, harus membiasakan unsur di dalamnya bukan hanya menghafal. Jika hanya sebatas menghafal, maka roh Iqra belum hidup,” ungkapnya.
Lebih lanjut, mantan Rektor Universitas Paramadina itu menyebut perintah iqra merupakan kesempatan besar bagi generasi muda untuk melampaui zamannya.
Ia mendorong mahasiswa membaca fenomena sosial agar mampu melahirkan gagasan yang relevan dengan perubahan dunia.
“Anak muda itu pandangannya ke depan, membawa kebaruan sudut pandang, dan (berbagai) pertanyaaan,” tegasnya.
Selain itu, Anies menekankan membaca realitas sosial harus dilakukan secara langsung, bukan hanya melalui laporan atau forum resmi.
“Jangan mau membaca kemiskinan, ketertinggalan, dan ketimpangan dari ruang konferensi pers. Akan tetapi, membacalah dari dapur keluarga, dari antrian berobat, dan dari kecemasan orang tua saat menunggu peluang anaknya bersekolah,” pungkasnya. ***

