Bantuan Mesin Dryer Koptan di Jembrana Terbengkalai

25 April 2015, 08:06 WIB

mesin%2Bmangkrak

Kabarnusa.com-Mesin Dryer (pengering gabah) bantuan dari pemerintah kepada koperasi tani (Koptan) di Subak Palamerta, Desa Nusasari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali sudah dua bulan ini terbengkalai di halaman Koperasi Sri Merta Asih.

Dari informasi, para pengurus koperasi termasuk subak enggan menerima mesin yang sempat lenyap tersebut.

Mereka tidak mengetahui mesin bernilai ratusan juta rupiah itu tiba-tiba bisa berada di depan gedung penyosohan beras milik koperasi.

Dari penelusuran ke sejumlah anggota subak dan pengurus koperasi, mesin ini sejatinya sudah lama ada berikut gedung tempat mesin namun sempat menghilang selama beberapa tahun.

Bahkan, bangunan yang awalnya sebagai tempat mesin dryer itu sudah kosong sejak tahun 2012 dan berubah fungsi menjadi tempat bulutangkis.

Baru beberapa bulan lalu, anggota subak mempertanyakan keberadaan mesin tersebut dan akhirnya diketahui bahwa sempat dipinjamkan ke usaha penyosohan beras di Sangkaragung.

Ketua Koperasi Sri Merta Asih, Made Sumadiyasa, dikonfirmasi kemarin mengaku tidak mengetahui pasti duduk permasalahan terkait mesin dryer itu.

Pihaknya baru terpilih menjabat dan baru saat RAT (Rapat Anggota Tahunan) lalu diketahui mesin dryer itu. Dia juga mengaku tidak tahu kemana mesin tersebut dipinjamkan oleh pengurus koprasi yang lama. Namun yang jelas  mesin itu tidak masuk ke aset koptan.

Karena itu, pengurus belum berani memasukkan alat bantuan itu ke gedung itu lagi. Pihaknya masih menunggu keputusan para anggota yang merupakan krama Subak.

Seminggu lalu, pengurus mengadakan rapat tetapi menurutnya tidak ada anggota yang datang. Rapat selanjutnya masih menunggu klian subak, kapan waktunya rapat dilaksanakan.

Di sisi lain, Klian Subak Palamerta, Komang Karta, dikonfirmasi terkait mesin dryer itu tidak tahu persis.

Tetapi memang pihaknya sempat ikut rapat dengan pihak yang terkait termasuk dari Dinas Pertanian.

Karta yang baru menjabat pada bulan Desember 2014 lalu ini membenarkan mesin dryer itu sempat dipertanyakan para krama subak.

Sebab, mesin itu bantuan dari pemerintah, tetapi belakangan diketahui dipinjamkan ke salah satu usaha penyosohan di Sangkaragung yang merupakan anggota Perpadi Jembrana.

Saat ini krama tidak berani memutuskan menerima kembali barang itu atau tidak, sehingga kondisinya terbengkalai di luar.

Pasalnya dari awal begitu diketahui bahwa mesin itu dipinjamkan, subak meminta agar dibiarkan dulu disana. Tetapi kenyataanya, justru sudah dibawa dan dalam kondisi terpecah-pecah.

“Tidak tahu kondisinya bagaimana, apakah masih bisa digunakan atau tidak, kami belum berani menerima,” ujarnya.

Dari pengamatan, kondisi mesin bantuan itu tercecer diantara bangunan RMU (rice milling unit) dan gedung mesin dryer.

Kondisinya sudah terpisah-pisah dan ditempat terbuka tanpa ditutupi apapun. Bangunan unit koptan yang berada disamping balai subak Palamarta itu juga terbuka tidak ada pagar.(dar)

Artikel Lainnya

Terkini