Denpasar– Langit Purnama Sasih Kadasa mulai menyelimuti Pura Agung Besakih, membawa aroma keagungan yang seolah menyentuh tiap sudut hati.
Di tengah persiapan megah untuk Karya Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK), Gubernur Bali, Wayan Koster, melangkah maju dengan komitmen kuat, meluncurkan Surat Edaran Nomor 08 Tahun 2025.
Surat ini bukan sekadar dokumen, tetapi sebuah panggilan bagi masyarakat untuk menjaga harmoni dan kesucian di kawasan pura.
Pada Rabu sore yang cerah (2/4), halaman Gedung Gajah di Jayasabha menjadi saksi ketika Gubernur Koster menyampaikan arahannya.
Dengan suara yang penuh keyakinan, ia memaparkan detail acara IBTK yang puncaknya jatuh pada Sabtu, 12 April 2025, dan berlangsung selama 21 hari hingga 3 Mei 2025.
“Acara ini bukan hanya sebuah ritual, tetapi juga perjalanan spiritual yang akan menghubungkan kita dengan energi suci,” ujarnya.
Namun, ada tanggung jawab yang menyertai keindahan ini. Larangan membawa tas kresek, styrofoam, dan produk plastik lainnya menjadi pengingat bahwa kesucian pura juga bergantung pada kesadaran kita untuk menjaga kebersihan.
“Bawa tumbler, bukan sampah,” tegas Koster. Sisa upakara yang dihaturkan juga wajib dibawa pulang oleh pamedek. Kebersihan, menurutnya, bukan hanya fisik, tetapi juga simbol kesucian hati.
Gubernur Koster tak hanya memikirkan detail acara, tetapi juga kenyamanan para pamedek. Jadwal persembahyangan disusun dengan rapi, memastikan tidak ada penumpukan massa.
Setiap kota dan kabupaten mendapat kesempatan untuk menghaturkan doa mereka di waktu yang telah ditentukan, termasuk pamedek dari luar Bali.
“Mengikuti jadwal adalah bentuk saling menghormati dan menciptakan kenyamanan bersama,” tambahnya dengan nada yang ramah.
Pidato Koster pun tak berhenti di situ. Ia mengajak seluruh masyarakat Bali untuk aktif menyebarkan informasi ini melalui berbagai media, baik lokal maupun internasional.
“Mari kita jadikan acara ini sebagai cerminan dari kebersamaan, keindahan, dan spiritualitas yang mendalam,” tuturnya penuh semangat.
Di tengah suasana yang sarat makna, tokoh-tokoh penting seperti Bendesa Adat Besakih, Jero Mangku Widiarta, dan sejumlah pejabat turut hadir, menegaskan bahwa IBTK bukan hanya acara keagamaan, tetapi juga momen bagi Bali untuk bersinar di mata dunia. ***