BI Bali Proyeksikan Ekonomi Tumbuh Hingga 5,9 Persen di 2026, Sinergi Data Jadi Kunci Utama

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani, menyampaikan keakuratan data serta informasi yang diperoleh dari para responden survei dan mitra liaison memegang peranan krusial sebagai leading indicator

25 Oktober 2026, 04:44 WIB

Denpasar-Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Bali memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Bali pada tahun 2026 berada pada kisaran 5,4 hingga 5,9 persen (yoy).

Proyeksi positif ini ditopang oleh solidnya sektor pariwisata, kuatnya konsumsi rumah tangga, ekspansi investasi, serta terjaganya tingkat inflasi daerah dalam sasaran nasional 2,5±1 persen.

Prospek perekonomian tersebut dipaparkan dalam forum Temu Wirasa Stakeholders 2026 bertajuk “Data Pramana, Bali Rahayu: Bersinergi Mendorong Pertumbuhan Bali yang Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan” yang digelar di Denpasar.

Forum ini diselenggarakan sebagai ajang apresiasi sekaligus penguatan sinergi antara Bank Indonesia dengan para responden survei, mitra liaison, pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, hingga perbankan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani, menyampaikan keakuratan data serta informasi yang diperoleh dari para responden survei dan mitra liaison memegang peranan krusial sebagai leading indicator. Data tersebut menjadi instrumen penting untuk membaca arah dinamika ekonomi daerah secara lebih dini sebelum data resmi statistik dirilis.

“Kontribusi para responden tidak hanya menghasilkan data statistik, namun juga menjadi masukan penting dalam proses analisis dan penyusunan rekomendasi kebijakan. Informasi yang diperoleh sering kali menjadi sinyal awal dalam mengidentifikasi peluang maupun risiko perekonomian, sehingga memungkinkan kami merumuskan langkah antisipatif secara lebih cepat dan tepat,” ujar Achris Sarwani.

Ia menambahkan, masukan komprehensif yang dihimpun secara berkala dari dunia usaha, pelaku sektor properti, perbankan, hingga rumah tangga memberikan gambaran utuh mengenai kondisi riil serta prospek perekonomian Bali ke depan.

Sejalan dengan hal tersebut, Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan ketersediaan data yang akurat, lengkap, dan tepat waktu merupakan fondasi mutlak bagi pemerintah maupun pelaku usaha dalam mengambil keputusan strategis.

Kebijakan publik yang responsif dan tepat sasaran sangat bergantung pada validitas informasi ekonomi yang melandasinya.

“Ketersediaan data yang akurat, lengkap, dan tepat waktu menjadi kebutuhan strategis dalam mendukung pengambilan keputusan, baik oleh pemerintah maupun pelaku usaha,” kata Wayan Koster.

Di samping menekankan pentingnya kualitas data, Gubernur Bali juga mengimbau seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat struktur ekonomi daerah.

Langkah ini dilakukan melalui dorongan penggunaan produk lokal Bali—mulai dari komoditas pertanian, perikanan, produk UMKM, wastra, hingga kerajinan daerah—guna memastikan pertumbuhan ekonomi memberikan dampak inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Sebagai rangkaian acara, Temu Wirasa Stakeholders 2026 turut menghadirkan pakar manajemen Prof. Rhenald Kasali dalam sesi insight sharing.

Sesi ini membekali para peserta dengan wawasan terkait kepemimpinan adaptif, kemampuan merespons dinamika perubahan, serta urgensi pemanfaatan analitik data dalam pengambilan keputusan bisnis dan organisasi.

Melalui penguatan kolaborasi dan pertukaran informasi ini, KPw BI Provinsi Bali optimistis kualitas asesmen ekonomi daerah akan semakin meningkat.

Sinergi yang solid antar-instansi diharapkan terus menjaga kestabilan harga, mendorong iklim investasi, dan mewujudkan perekonomian Bali yang semakin maju, berdaya tahan, serta inklusif.***

 

Berita Lainnya

Terkini