Yogyakarta– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi DI Yogyakarta memprediksi awal musim hujan periode 2026/2027 di wilayah DIY akan mengalami pergeseran jadwal. Sebagian besar wilayah diproyeksikan baru akan mulai diguyur hujan pada November hingga Desember 2026 mendatang.
Kepala Stasiun Klimatologi DIY, Mamenun, menjelaskan kedatangan musim hujan kali ini mengalami kemunduran sekitar tiga dasarian atau setara dengan 30 hari jika dibandingkan dengan rata-rata klimatologis periode 1991 hingga 2020.
Ia menyebutkan, penundaan tersebut terjadi sebagai konsekuensi langsung dari dinamika atmosfer global, yakni fenomena El Nino yang memicu Hari Tanpa Hujan (HTH) berkepanjangan di hampir seluruh wilayah DIY dalam beberapa waktu terakhir.
“Mundurnya musim hujan ini merupakan dampak dari El Nino yang juga mengakibatkan terjadi Hari Tanpa Hujan (HTH) berkepanjangan, termasuk di DIY,” ujar Mamenun, Rabu (30/9/2026).
Berdasarkan pemantauan dari 103 pos hujan di seluruh wilayah DIY, BMKG mencatat sebanyak 81 pos telah mengindikasikan status HTH ekstrem dengan durasi lebih dari 60 hari. Bahkan, rekor durasi kekeringan terpanjang terdeteksi di wilayah Pajangan, Kabupaten Bantul, yang mencapai 141 hari tanpa turun hujan.
Dalam proyeksi BMKG, wilayah utara Kabupaten Kulon Progo serta Sleman bagian utara dan tengah akan menjadi kawasan pertama yang menyambut kedatangan musim hujan pada minggu ketiga November 2026.
Selanjutnya, wilayah DIY lain akan menyusul secara bertahap sepanjang Desember 2026. Pada minggu pertama Desember, hujan diprediksi mulai merata di Kulon Progo timur, Kota Yogyakarta, sebagian besar Sleman, Bantul utara, dan Gunungkidul utara. Wilayah sisanya seperti pesisir selatan Kulon Progo, Bantul, dan Gunungkidul baru akan memasuki musim hujan pada minggu kedua Desember.
Sementara itu, intensitas curah hujan bulanan diprediksi masih berada pada kategori rendah (0 – 50 mm/bulan) sepanjang Oktober, sebelum merambat naik pada November (51 – 300 mm/bulan), dan memasuki kategori menengah hingga tinggi (151 – 500 mm/bulan) pada Desember.
“Prediksi puncak musim hujan 2026/2027 akan terjadi di bulan Februari, di wilayah Kulon Progo bagian utara dan timur; Sleman; Kota Yogyakarta; Bantul bagian utara; serta Gunungkidul bagian barat,” tutur Mamenun.
Adapun untuk kawasan selatan Kulon Progo, selatan Bantul, dan sebagian besar Gunungkidul, puncak musim hujan diperkirakan baru akan terjadi pada Maret 2027, sebelum akhirnya musim hujan berakhir secara bergelombang pada April 2027.
Menghadapi pergeseran pola cuaca yang signifikan ini, BMKG Stasiun Klimatologi DIY menerbitkan sejumlah rekomendasi strategis bagi pemerintah daerah dan masyarakat luas.
Di sektor pertanian, para petani diimbau untuk cermat menyesuaikan jadwal masa tanam serta memilih varietas tanaman berumur pendek atau genjah guna mengantisipasi durasi musim hujan yang lebih singkat.
Masyarakat juga disarankan memaksimalkan penampungan air hujan rumah tangga serta mengoptimalkan sistem drainase lingkungan.
Selain itu, kewaspadaan tinggi ditekankan pada sektor kesehatan dan mitigasi kebencanaan menyusul dinamika cuaca ekstrem yang menyertai masa transisi.
“Bagi sektor kesehatan, lakukan pemberantasan sarang nyamuk dan larvasi, serta menyiapkan fasilitas kesehatan untuk mengantisipasi lonjakan kasus demam berdarah,” tandas Mamenun, mengingatkan potensi lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) saat peralihan musim.
BMKG turut meminta instansi terkait agar tetap siaga mengawasi potensi kebakaran lahan selama sisa masa kekeringan, sekaligus memastikan kesiapan jalur evakuasi bencana banjir dan tanah longsor menjelang tibanya puncak musim hujan.***

