Sleman – Di tengah maraknya kabar kurang sedap mengenai kasus keracunan makanan yang viral di media sosial, dua pelajar kreatif asal Sleman justru memilih untuk tidak tinggal diam.
Pradipta Widhi Nugroho dan Abyan Syahlefi, siswa kelas IX B SMP Negeri 1 Turi yang tergabung dalam ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR), berhasil merakit sebuah inovasi keren bernama ‘Detector MBG’—sebuah alat canggih pendeteksi kebasian makanan untuk mencegah risiko keracunan massal.
Yang bikin takjub, alat hebat ini dirakit hanya dengan modal sekitar Rp500 ribu saja!

Ide cemerlang ini bermula dari rasa keprihatinan mendalam saat keduanya melihat berita anak-anak sekolah di berbagai daerah yang mengalami keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Melalui proses riset, desain, hingga pemrograman rumit selama lima bulan, mereka berhasil menyatukan berbagai komponen cerdas seperti sensor gas MG3 dan MQ135, kipas pengatur suhu, serta mikrokontroler ESP32 sebagai otak pengolah data.
Hebatnya lagi, alat ini hanya butuh waktu lima detik saja untuk menangkap uap dan aroma makanan, lalu langsung mengirimkan hasilnya ke ponsel pintar maupun layar monitor lewat koneksi Wi-Fi dengan status ‘Aman’ atau ‘Makanan Terdeteksi Basi’.

Meski sempat menemui tantangan di bagian coding yang sering error, kegigihan Pradipta dan Abyan berbuah manis.
Inovasi hemat biaya ini tidak hanya diandalkan untuk menjaga keamanan pangan di sekolah mereka, tetapi juga berhasil melaju mulus melewati seleksi tahap pertama ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) di Jakarta.
Sang Pembina KIR, Ibu Ani Marwati, mengungkapkan rasa bangganya karena gagasan murni ini lahir dari daya kritis dan kepedulian tinggi para siswa terhadap isu sosial di sekitarnya.
Ke depannya, alat pendeteksi kebasian ini rencananya akan dipatenkan agar bisa segera disebarluaskan dan memberikan rasa aman bagi seluruh sekolah di Indonesia saat menyantap menu bergizi setiap hari.***

