Blora – Sejumlah tokoh kebudayaan Kabupaten Blora menggelar pertemuan strategis di Cafe Slapa Jazz pada momentum penghujung bulan Sya’ban (17/02). Pertemuan ini bertujuan untuk merumuskan arah baru pengembangan literasi serta memperkuat identitas Blora sebagai “Kota Sastra” melalui pengajuan tanggal 6 Februari sebagai Hari Sastra Blora.
Hadir dalam konsolidasi tersebut tokoh-tokoh kunci pusat kebudayaan Blora, antara lain:
Dalhar Muhammadun (Lek Madun) – Ketua Dewan Kesenian Blora (DKB).
Sulistyo Pungky – Pelukis dan Pembina Seni Rupa Blora.
Sejumlah pengamat budaya dan perwakilan pemuda pecinta sastra.
Gagasan penetapan Hari Sastra Blora pada 6 Februari merujuk pada hari lahir sastrawan besar dunia asal Blora, Pramoedya Ananta Toer. Inisiatif ini bermula dari aspirasi kolektif saat peringatan hari lahir Pramoedya di Blora Creative Space awal bulan ini.
“Kami berkomitmen menjadikan 6 Februari sebagai agenda rutin tahunan. Ini adalah cita-cita mulia yang kami harapkan mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Blora agar api literasi di tanah kelahiran Pramoedya tetap menyala dan terarah,” ujar perwakilan tokoh budaya dalam pertemuan tersebut.
Dalam diskusi tersebut, terungkap data bahwa Blora memiliki aset intelektual yang luar biasa. Tercatat sedikitnya 30 penulis asal Blora telah menerbitkan buku secara resmi.
Melansir blorakab.go.id, angka ini menjadi bukti otentik bahwa potensi kepenulisan di Blora sangat besar namun memerlukan wadah dokumentasi yang lebih sistematis.
Selain fokus pada sastra modern, para budayawan juga menekankan pentingnya dokumentasi tertulis mengenai kearifan lokal yang masih terserak, seperti:
Falsafah Kehidupan Samin yang kaya akan nilai kejujuran.
Epos Sejarah Noyo Gimbal sebagai narasi kepahlawanan lokal.
Arsip Tradisi Lisan yang terancam hilang jika tidak segera dibukukan.
Sebagai langkah konkret, para tokoh budaya mendorong Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Blora untuk menyediakan ruang khusus (deposito karya) yang menghimpun seluruh karya tulis putra daerah. Keberadaan ruang ini dinilai krusial bagi peneliti, pelajar, dan masyarakat umum untuk mempelajari jati diri Blora secara mendalam.
Langkah awal di Cafe Slapa Jazz ini diharapkan menjadi pemantik bagi kebangkitan budaya tulis dan dokumentasi sejarah di Kabupaten Blora, guna memastikan identitas lokal tetap kokoh di tengah arus modernisasi. ***

