Cuaca Ekstrem dan Normalisasi Pasca-Raya ‘Rem’ Optimisme Konsumen Bali di Penghujung 2025

Curah hujan ekstrem dan fase normalisasi konsumsi pasca-Galungan Kuningan menjadi faktor utama penahan laju kepercayaan konsumen di Bali

16 Januari 2026, 13:45 WIB

Denpasar– Optimisme masyarakat Bali dilaporkan mengalami sedikit “pendinginan” pada penghujung tahun 2025. Curah hujan ekstrem dan fase normalisasi konsumsi pasca-Hari Raya Galungan serta Kuningan menjadi faktor utama yang menahan laju kepercayaan konsumen di Pulau Dewata.

Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia Provinsi Bali periode November 2025, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat sebesar 139,42.

Meski terkoreksi tipis 1,5% (month-to-month), angka ini menegaskan bahwa masyarakat Bali sebenarnya masih berada dalam zona optimis (indeks > 100).

Menariknya, gairah ekonomi Bali justru dipacu oleh generasi muda. Kelompok usia 20-30 tahun mencatatkan indeks tertinggi sebesar 150,5, disusul oleh usia 41-50 tahun (147,0).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja menjelaskan, dari sisi profesi, pekerja sektor formal tampak lebih percaya diri (144,6) dibandingkan pekerja sektor informal (133,7).

Penurunan IKK ini bersumber dari melambatnya Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang turun 3,0% menjadi 147,8. Responden menyoroti dua hal krusial:

Faktor Alam: BMKG mencatat kenaikan frekuensi hujan lebat ekstrem sebesar 20% di Bali pada Desember 2025. Hal ini berdampak langsung pada penurunan pendapatan pelaku usaha mikro.

Siklus Hari Raya: Setelah lonjakan konsumsi pada Galungan dan Kuningan di bulan November, pola belanja masyarakat kembali ke titik normal.

Meskipun ekspektasi penghasilan enam bulan ke depan sedikit terkoreksi, optimisme terhadap kegiatan usaha tetap tumbuh positif sebesar 3,2%.

“Ini sinyal pelaku usaha masih melihat peluang cerah di masa depan,” tutur Erwin dalam keterangan tertulisnya Jumat 16 Januari 2026.

Di tengah tantangan cuaca, kabar baik datang dari sisi inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Bali berada di level 2,91% (yoy), tetap terjaga dalam rentang target sasaran.

Untuk menjaga momentum ini, Bank Indonesia dan TPID Bali melakukan langkah-langkah strategis:

Operasi Pasar Murah: Memastikan stok pangan aman menjelang Natal dan Tahun Baru.

Kebijakan Moneter: Mempertahankan BI-Rate di level 4,75% guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.

Stimulus Fiskal: Pemerintah Provinsi Bali memberikan “hadiah” awal tahun bagi masyarakat berupa pengurangan pokok PKB dan BBNKB yang mulai berlaku 5 Januari 2026.

Sinergi antara kebijakan pro-stability dan pro-growth ini diharapkan mampu membentengi ekonomi Bali dari gejolak global, sekaligus memastikan daya beli masyarakat tetap tangguh memasuki tahun 2026. ***

Berita Lainnya

Terkini