Dari Modal KUR Rp5 Juta, Rumpun Bambu Bangli Kini Naik Kelas ke KUPRA BRI

Lewat bantuan KUR BRI sebesar Rp 5 juta Nengah Kartini sukses membawa usaha kerajinan lokalnya, Rumpun Bambu Bangli, melesat dan naik kelas.

23 Oktober 2026, 16:43 WIB

Bangli— Berawal dari keberanian meminjam modal Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp5 juta di Bank Rakyat Indonesia (BRI), Ni Nengah Kartini sukses membawa usaha kerajinan lokalnya, Rumpun Bambu Bangli, melesat dan naik kelas.

Dari usaha skala keluarga yang sederhana, kini Rumpun Bambu Bangli menjelma menjadi produsen kerajinan yang mempekerjakan puluhan tenaga kerja dan rutin menyeploskan produk dekorasi ke vila serta hotel berbintang di Bali.

Keterampilan menganyam sejatinya telah melekat pada diri Kartini sejak kecil, yang diturunkan langsung oleh kakek dan neneknya. Keterbatasan ekonomi sempat menghentikan pendidikan formal Kartini di bangku sekolah dasar. Namun, keterbatasan tersebut tidak memadamkan semangatnya untuk mengasah keahlian menganyam hingga menjadi tumpuan ekonomi keluarga.

“Saya awalnya pinjam modal di BRI Rp5 juta. Dari modal itu usaha terus saya putar,” ujar Kartini saat menceritakan awal mula perjalanan bisnisnya.

 

Lewat tangan dinginnya, Rumpun Bambu Bangli tak sekadar memproduksi peralatan rumah tangga seperti bakul atau tempat bumbu. Kartini terus berinovasi mendesain anyaman tiga dimensi berukuran 1 \times 2 meter serta produk dekorasi tematik bernama Astra.

Inovasi tersebut terbukti sukses merebut pasar properti dan pariwisata Bali. Dalam kurun sembilan bulan, produksi anyaman tiga dimensi mampu menembus angka 1.500 lembar. Permintaan dari pengelola vila dan hotel pun terus mengalir, dengan salah satu pesanan rutin mencapai 100 lembar per minggu.

Seiring melonjaknya permintaan pasar, kapasitas produksi dan penyerapan tenaga kerja Rumpun Bambu Bangli ikut melesat. Usaha yang awalnya hanya dibantu oleh enam anggota keluarga ini, kini telah memberdayakan sekitar 30 warga lokal di sekitarnya. Saat pesanan sedang ramai, Kartini mencatat omzet usahanya mampu menembus lebih dari Rp15 juta per bulan, dengan nilai aset produk yang juga melampaui angka tersebut.

Keberhasilan menjaga performa bisnis dan kapasitas produksi ini secara otomatis mendorong posisi Kartini naik kelas dari nasabah KUR menjadi nasabah KUPRA (Kredit Kupedes Rakyat) BRI guna memperoleh dukungan pembiayaan modal kerja yang lebih besar.

Menanggapi dinamika perkembangan usaha tersebut, Regional CEO BRI Region 17/Kanwil Denpasar, Hery Noercahya, menegaskan transformasi Rumpun Bambu Bangli merupakan bukti nyata bagaimana skema pembiayaan perbankan harus adaptif mengikuti siklus pertumbuhan bisnis UMKM.

“Perkembangan pelaku usaha seperti Rumpun Bambu Bangli menunjukkan bahwa pembiayaan perlu mengikuti pertumbuhan kapasitas usaha. Ketika usaha mikro mampu meningkatkan produksi, memperluas pasar, dan membutuhkan modal yang lebih besar, dukungan pembiayaan dapat diarahkan sesuai perkembangan kebutuhan usaha,” jelas Hery Noercahya.

Hery menambahkan, fenomena kenaikan kelas nasabah tidak semata-mata diukur dari nominal kredit yang diserap, melainkan dari kematangan dan kemampuan pelaku usaha dalam mengelola dan memperluas kapasitas bisnisnya secara terukur.

Perjalanan bisnis Kartini bukannya tanpa tantangan. Saat pandemi Covid-19 melumpuhkan sektor pariwisata Bali, pesanan dekorasi dari hotel dan vila sempat terhenti total. Kartini memutar otak dan memilih bertahan dengan mengalihkan produksi ke produk kebutuhan harian yang dijual langsung ke masyarakat, seperti tempat bumbu dan bakul nasi.

Daya tahan tersebut justru membuka pintu rezeki baru. Dari pesanan-pesanan skala kecil saat pandemi, produk Kartini mulai dilirik oleh jaringan arsitek dan interior desainer. Akses pasar Rumpun Bambu Bangli kian terbuka lebar setelah aktif mengikuti berbagai pameran yang difasilitasi oleh pemerintah daerah.

Selain resiliensi pasar, Kartini juga cermat mengelola pasokan bahan baku bambu yang memerlukan proses pengeringan ketat sebelum dianyam. Untuk mengantisipasi kelangkaan bahan baku di musim hujan, ia secara berkala memantau dan mengamankan stok bambu di wilayah Bangli.

Tak berhenti di situ, guna melindungi karya intelektualnya dari peniru, Kartini telah mendaftarkan hak cipta atas sejumlah desain buatannya, termasuk produk abstrak dan motif anyaman tiga dimensi yang menjadi ciri khas utama Rumpun Bambu Bangli.

Kini, fokus Kartini tidak hanya terbatas pada pemenuhan target pesanan, tetapi juga pada regenerasi perajin. Ia secara terbuka merangkul anak-anak muda dan pelajar untuk belajar dasar-dasar menganyam agar seni kerajinan bambu Bangli tidak punah ditelan zaman.

“Kalau orang memberi pekerjaan kepada kita, kita harus mau belajar. Jangan menyerah dan jangan putus asa,” tutup Kartini penuh optimistis. ***

 

Berita Lainnya

Terkini