Diver’city’: Merayakan Kemanusiaan Melalui Labirin Warna dan Dialog Inklusif

Ni Kadek Sintya Angreni, Program Manager IHCP, menjelaskan  pameran Manusia 4.0 Divercity membumikan hasil riset agar dimanfaatkan publik

18 Januari 2026, 18:20 WIB

Denpasar – Di sudut Berbagi Ruang & Kopi, kini bertransformasi menjadi sebuah instalasi kolaboratif yang berpendar dengan warna-warna cerah—sebuah kontras visual yang sengaja diciptakan oleh PKBI Daerah Bali untuk merayakan keberagaman melalui pameran bertajuk MANUSIA 4.0: Diver(city).

Pameran ini manifesto visual tentang harapan akan kota yang sehat dan inklusif.

Di bawah arahan kuratorial Savitri Sastrawan, seri keempat dari pameran “MANUSIA” ini melangkah lebih jauh dengan merespons isu interseksionalitas HIV dan kekerasan seksual di tengah kompleksitas identitas manusia modern.

Bekerja sama dengan Gurat Institute—kolektif seniman yang berakar pada riset dan budaya visual—pameran ini mendobrak batas antara seni rupa konvensional dan desain komunikasi visual.

Jika pameran sebelumnya akrab dengan lukisan dan patung, kali ini pengunjung disambut oleh peta digital dan permainan interaktif.

“Tantangan terbesarnya adalah mengolah data yang sangat padat menjadi visual yang menarik tanpa membebani pengunjung,” ungkap Savitri.

Dengan menggandeng seniman muda seperti Yessiow dan Kadek Bagaskara, isu-isu kesehatan yang sering dianggap “berat” dan “menakutkan” dibalut dalam estetika modern yang cerah, mengundang siapa pun untuk mendekat tanpa rasa cemas.

Diver(city) merupakan puncak dari perjalanan panjang program Indonesia Health Cities with Pride (IHCP) yang berlangsung sejak 2023.

Ni Kadek Sintya Angreni, Program Manager IHCP, menjelaskan  pameran ini adalah upaya membumikan hasil riset agar bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh publik.

Salah satu instalasi yang paling mencolok adalah infografis berbentuk Pulau Bali yang memvisualisasikan data krusial: fakta bahwa 63,4% remaja sebenarnya mendambakan layanan konseling, namun masih terbentur tembok stigma.

Di sampingnya, berjajar karya photovoice—dua belas fragmen cerita dari remaja hingga pemangku kebijakan yang merefleksikan perjuangan mereka mewujudkan kota yang adil.

Keunikan lain dari MANUSIA 4.0 adalah hadirnya board game bertema alur rujukan kekerasan seksual di kampus. Di sini, pengunjung tidak hanya menjadi penonton pasif, tetapi diajak berperan sebagai saksi yang harus menentukan langkah tepat bagi penyintas. Ini adalah cara cerdas untuk mengenalkan sistem layanan kesehatan dan hak-hak penyintas melalui interaksi yang nyata.

Sebagai penguat dasar intelektualnya, pameran ini juga menghadirkan diskusi panel yang melibatkan pakar hukum dan aktivis, membedah dinamika pemenuhan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) bagi ODHIV dan penyintas kekerasan seksual di Indonesia, khususnya Bali.

MANUSIA 4.0: Diver(city) adalah sebuah pengingat bahwa kota yang sehat dimulai dari kesediaan kita untuk melihat perbedaan bukan sebagai sekat, melainkan sebagai kekayaan.

Pameran ini terbuka untuk umum di Berbagi Ruang & Kopi, Denpasar, hingga 19 Januari 2026 (13.00 – 18.00 WITA). Tanpa dipungut biaya, publik diajak untuk masuk ke dalam ruang dialektika ini, menyerap datanya, merasakan warnanya, dan pulang membawa kesadaran baru tentang kemanusiaan yang lebih setara. ***

Berita Lainnya

Terkini