Doni Monardo: Ada 20,78 Persen Masyarakat Bali Meyakini Tak Terpapar Covid-19

10 Oktober 2020, 07:45 WIB
C5D81D1A 059C 4FB3 A206 3408D78851FA
Kepala BNPB Doni Monardo dan Gubernur Bali Wayan Koster (kanan) dalam
rapat kerja dan pengarahan Nasional bersama Satgas Penanganan Covid-19
se-Bali yang berlangsung secara video conference dari Rumah Jabatan
Jayasabha, Denpasar, Jumat (9/10/2020)/ist.

Denpasar – Kepala Satgas Nasional Penanganan Covid-19 sekaligus Kepala
BNPB Letjen Doni Monardo mengungkapkan saat ini ada sekira 20,78 persen
masyarakat di Bali yang meyakini tidak akan terpapar virus corona atau
Covid-19.

Dia mengatakan, Pemerintah Pusat melalui Satgas melakukan berbagai upaya untuk
mendukung penuh sejumlah provinsi yang dianggap memiliki peningkatan kasus,
termasuk Bali.

Melansir data dari Badan Pusat Statistik BPS, Doni menyatakan, saat ini masih
ada masyarakat yang menganggap dirinya tidak mungkin terpapar Covid-19
berdasarkan data BPS.

Jumlahnya 17 persen yang angka riilnya hampir 45 juta orang. Termasuk di Bali
yang sekitar 20,78 persen masyarakatnya ada yang merasa tidak mungkin
terpapar.

“Ini adalah angka yang sangat besar. Untuk itu langkah dan upaya untuk memutus
mata rantai ini harus ditingkatkan lagi,” tandas Doni dalam rapat kerja dan
pengarahan Nasional bersama Satgas Penanganan Covid-19 se-Bali yang
berlangsung secara video conference dari Rumah Jabatan Jayasabha, Denpasar,
Jumat (9/10/2020).

Menurut dia, sosialisasi disiplin protokol kesehatan (prokes) merupakan hal
mendesak yang harus jadi prioritas setiap kepala daerah, baik melalui media
massa ataupun media sosial.

Satgas sendiri telah bekerjasama dengan Dewan Pers dan sejumlah media untuk
mendukung dan mengisi program yang dalam hal ini berhubungan dengan perubahan
perilaku masyarakat.

“Penyampaian informasi dengan kearifan lokal, dengan bahasa-bahasa setempat
juga tak kalah penting karena sekali lagi pemahaman yang kurang akan
berbahaya, tentang apa itu new normal, apa itu sosial distancing, dan
lainnya,” katanya.

Covid ini sangat berbahaya karena bukan ditularkan oleh hewan, tapi dari
manusia ke manusia dan orang yang kemungkinan besar menularkan adalah orang
terdekat, keluarga, kerabat, teman jadi harus dipahami betul masker, cuci
tangan dan jaga jarak adalah prioritas untuk saat ini.

Doni juga mengingatkan bahwa sampai saat ini vaksin untuk Covid-19 belum ada
dan jika pun sudah ada, distribusinya tidak bisa serta merta untuk keseluruhan
masyarkat namun perlu tahapan-tahapan lagi.

Jadi untuk saat ini, vaksin terbaik adalah patuh dan disiplin (protokol
kesehatan-red). Sudah lebih dari satu juta orang yang meninggal di seluruh
dunia, sudah lebih dari 35 juta orang terpapar.

“Sudah sangat banyak tenaga kesehatan kita yang gugur menjalankan tugasnya
sebagai pahlawan kemanusiaan dan kita tidak ingin ini terus terjadi, sungguh
tidak sebanding dengan kesadaran kita untuk mematuhi prokes,” katanya
menegaskan.

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Sonny Harry
B. Harmadi menuturkan, di Bali menurut data BPS terdapat 20,8 persen
masyarakat yang yakin dirinya tidak tertular Covid-19, alias hampir 840 ribu
orang dari 4,2 juta penduduk Bali.

“Hal ini perlu edukasi yang masif. Lalu, setiap orang perlu mengetahui
daerahnya masuk zona apa sehingga bisa mempersiapkan diri dengan baik,”
ujarnya.

Sonny juga menjelaskan, penerapan disiplin protokol 3M yakni memakai masker,
menjaga jarak dan mencuci tangan merupakan pilihan paling mujarab untuk saat
ini, terutama sebagai kewajiban dalam pencegahan.

“Tanpa 3M, resiko kita tertular ada di angka 95 persen. Jika diterapkan dengan
benar maka angka resiko penularan jadi 15 persen. Bahkan dengan prokes pun
masih beresiko namun tentu jauh lebih rendah resikonya,” bebernya.

Perubahan perilaku menurut Sonny menjadi senjata untuk melawan penularan
Covid-19.

“Masker saat ini jadi senjata utama. Saya ambil kasus di Alabama,
US. Setelah pemerintahnya mewajibkan memakai masker, kasus hariannya turun
drastis sampai seperempatnya. Lalu contoh lain di Austria, ketika
pemerintahnya melonggarkan pemakaian masker, maka kasus langsung melonjak,”
urainya.

Pada kesempatan itu, Satgas Covid-19 Nasional menyerahkan bantuan kepada
Pemprov Bali yang diterima langsung Gubernur Koster berupa dua unit
ventilator, 5 ribu face shield, 15 ribu alat pelindung diri (APD), 30 ribu
masker bedah, 10 ribu masker N-95 dan 500 ribu masker kain. (rhm)

Artikel Lainnya

Terkini