Gubernur Koster ‘Tancap Gas’ Tuntaskan Shortcut Titik 9-10 Singaraja Mengwitani

Gubernur Bali Wayan Koster. melakukan ground breaking pembangunan jalan pintas (shortcut) Titik 9 dan 10 di Desa Gitgit, Sukasada, Buleleng

7 Januari 2026, 17:36 WIB

Singaraja– Sebuah langkah besar kembali diambil untuk mengikis ketimpangan antara Bali Utara dan Bali Selatan. Di bawah rintik doa dan tradisi, Gubernur Bali Wayan Koster secara resmi melakukan ground breaking pembangunan jalan pintas (shortcut) Titik 9 dan 10 di Desa Gitgit, Sukasada, Buleleng, Rabu (7/1/2026).

Proyek strategis ini bukan sekadar pembangunan aspal dan beton, melainkan upaya nyata dalam memberikan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat yang selama ini bertaruh nyawa di jalur ekstrem Singaraja-Mengwitani.

Dimulainya proyek ini diawali dengan upacara adat Ngeruak, sebuah kearifan lokal untuk memohon restu alam.

Bagi Gubernur Koster, percepatan proyek ini adalah janji yang ia bawa sejak kembali dilantik pada Februari 2025 lalu.

“Kebutuhan infrastruktur ini sangat mendesak. Bukan hanya soal mobilitas logistik, tapi soal pelayanan publik yang manusiawi,” tegas Koster.

Ia menambahkan, seluruh tahapan, mulai dari tender hingga penentuan hari baik untuk ground breaking, dikawal ketat demi memastikan proyek tidak berlarut-larut.

Ke depan, target besar telah dipasang. Koster menargetkan pembebasan lahan untuk Titik 11 dan 12—medan terberat dalam proyek ini—dimulai pada 2026.

“Saya ingin jalan pintas ini tuntas minimal hingga Titik 12 sebelum masa jabatan saya berakhir di tahun 2030,” imbuhnya penuh komitmen.

Di balik kemegahan pariwisata Bali yang mencatatkan rekor 7,05 juta wisatawan pada 2025, terselip tantangan besar: kemacetan kronis dan distribusi ekonomi yang belum merata.

Gubernur Koster secara jujur mengakui, kemacetan tidak bisa diselesaikan hanya dengan himbauan.

“Masalah macet ini tidak bisa diselesaikan dengan ceramah. Solusinya adalah infrastruktur jalan dan moda transportasi yang memadai,” ujarnya.

Dengan kontribusi devisa pariwisata Bali yang mencapai Rp170 triliun bagi nasional, Koster menegaskan, infrastruktur adalah kunci agar daya saing Bali tidak merosot.

Pembangunan shortcut ini diharapkan menjadi urat nadi baru yang menyebarkan kemakmuran pariwisata hingga ke pelosok Bali Utara.

Data dari Direktorat Jenderal Bina Marga mengungkap urgensi proyek ini. Jalur lama memiliki kelandaian ekstrem hingga 27%, yang menjadi pemicu rata-rata 140 kecelakaan per tahun.

Melalui pembangunan Titik 9 dan 10 sepanjang 3,90 kilometer ini, transformasi signifikan akan terjadi:

Waktu Tempuh: Dipangkas dari 21 menit menjadi hanya 8 menit.

Keselamatan: Kelandaian jalan diturunkan drastis menjadi maksimal 10%.

Lingkungan: Pengurangan emisi karbon kendaraan hingga 10%.

Proyek Paket 1 senilai Rp290,84 miliar ini dikerjakan oleh Waskita–Sinarbali KSO. Gubernur pun memberikan peringatan keras kepada pelaksana proyek agar menjaga kualitas tanpa menoleransi keterlambatan.

Lingkup pekerjaan paket 2 terdiri dari pembangunan jalan sepanjang 0,88 km dan pembangunan jembatan sepanjang 220 meter (dua jembatan) dengan total anggaran senilai Rp 187 Miliar.

Sementara untuk lingkup pekerjaan paket 3, terdiri dari pembangunan jalan sepanjang 1,146,5 meter dan jembatan sepanjang 128,5 meter dengan kebutuhan anggaran senilai 189,7 miliar.

Meski kerap diterpa dinamika di media sosial, Gubernur Koster memilih tetap fokus pada hasil nyata.

Baginya, pembangunan infrastruktur yang menghubungkan Bali Utara, Selatan, Timur, dan Barat adalah warisan yang harus dituntaskan demi generasi mendatang.

Kini, dengan kolaborasi erat antara Pemerintah Pusat dan Provinsi Bali, mimpi masyarakat Buleleng untuk memiliki akses jalan yang aman dan cepat bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang tengah dibangun di depan mata.***

Berita Lainnya

Terkini