Karhutla dan Cuaca Ekstrem Warnai Awal Maret, BNPB Ingatkan Kesiapsiagaan

11 Maret 2026, 01:13 WIB

Jakarta – Awal Maret 2026 menjadi pengingat betapa rapuhnya alam sekaligus kuatnya solidaritas masyarakat dalam menghadapi bencana (10/3).

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum sejumlah peristiwa yang terjadi pada 9–10 Maret, mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga cuaca ekstrem yang merusak pemukiman warga.

Di Aceh Barat, api melalap dua hektar lahan di Gampong Alue Raya dan Gampong Suak Pante Breuh. Laporan warga menjadi alarm dini yang segera ditindaklanjuti BPBD bersama TNI, Polri, dan masyarakat.

Hingga Selasa pagi, tim gabungan masih berjibaku memadamkan api dengan penyekatan di lokasi terdampak.

Tak jauh dari sana, di Aceh Besar, kebakaran juga menghanguskan lima hektar perkebunan sawit di Gampong Glee Taron. Armada pemadam kebakaran dikerahkan, dan berkat kerja cepat, api berhasil dipadamkan dalam waktu kurang dari empat jam.

Sementara itu, di Kalimantan Utara, karhutla lebih luas terjadi di Desa Binusa, Nunukan. Diduga berawal dari pembakaran sampah, api merambat hingga menghanguskan 9,5 hektar lahan warga.

Petugas BPBD bersama masyarakat akhirnya berhasil menaklukkan si jago merah menjelang tengah malam.

Tak hanya kebakaran, cuaca ekstrem juga melanda Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Hujan deras disertai angin kencang menerjang Desa Burau Pantai, merusak 16 rumah warga.

Tiga di antaranya rusak berat, enam rusak sedang, dan tujuh rusak ringan. Sebanyak 19 kepala keluarga terdampak, sementara BPBD bersama pemerintah desa dan kecamatan melakukan asesmen serta pendataan.

BNPB menegaskan, bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan angin kencang masih kerap terjadi, namun di sisi lain kebakaran hutan dan lahan mulai muncul di sejumlah wilayah. BMKG memprakirakan sebagian besar Indonesia akan memasuki musim kemarau lebih awal, yakni April 2026.

Wilayah yang diperkirakan mengalami kemarau lebih cepat meliputi Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Peralihan musim ini berpotensi menghadirkan risiko ganda: cuaca ekstrem di satu sisi, karhutla di sisi lain.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D., mengingatkan masyarakat agar tetap waspada.

“Jangan lengah terhadap potensi bencana. Hindari membakar sampah atau membuka lahan dengan api, dan selalu siapkan tas siaga bencana. Pantau informasi resmi dari BNPB, BPBD, dan BMKG,” tegasnya.***

Berita Lainnya

Terkini