Yogyakarta – Peluang karier bagi lulusan kedokteran di Indonesia dinilai semakin luas.
Profesi dokter kini tidak hanya terbatas pada praktik klinis, tetapi juga terbuka di sektor nonklinis seperti akademisi, penelitian, manajemen layanan kesehatan, hingga wirausaha di bidang kesehatan.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, dr. Heri Setyanto, Sp.B., FINACS., menegaskan bahwa perkembangan sistem kesehatan nasional memberi ruang kontribusi yang lebih besar bagi dokter.
“Gelar dokter bukan sekadar simbol kelulusan, melainkan amanah untuk melayani masyarakat dan bangsa melalui berbagai jalur karier,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Dokter Periode LXXXVII Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu (28/1/2026).
Sebanyak 18 dokter baru dilantik dan didorong untuk tidak membatasi pilihan karier hanya pada praktik klinis.
Menurut dr. Heri, kebutuhan tenaga kesehatan nasional membuka peluang besar bagi dokter untuk berkontribusi di sektor strategis.
Pilihan karier mencakup dokter spesialis, akademisi, peneliti, manajer kesehatan, hingga entrepreneur yang mendirikan klinik atau rumah sakit.
Namun, jumlah tenaga medis di Indonesia masih terbatas. Saat ini terdapat sekitar 219 ribu dokter atau 0,76 per seribu penduduk, di bawah standar World Health Organization (WHO).
Jumlah dokter spesialis baru sekitar 31 ribu orang, sementara kebutuhan nasional mencapai 70 ribu.
Selain jalur klinis dan struktural, sektor kewirausahaan kesehatan juga dinilai menjanjikan.
Potensi ekonomi besar terlihat dari layanan sunat yang setiap tahun dibutuhkan oleh sekitar 2,4 juta bayi laki-laki, serta bidang estetika medis yang bernilai puluhan triliun rupiah dan terus berkembang.
Dr. Heri menekankan bahwa peluang tersebut dapat digarap dokter muda dengan tetap menjunjung tinggi etika profesi. ***

