Indonesia Dinilai Punya Peran Strategis Redam Konflik Iran–AS–Israel

Indonesia dapat mendorong Iran agar tidak meningkatkan eskalasi konflik karena dampaknya akan merugikan perekonomian negara-negara Islam

6 Maret 2026, 05:35 WIB

Yogyakarta – Serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, menewaskan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat penting.

Peristiwa ini memicu serangan balasan dari Teheran dan meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Di tengah eskalasi tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk berperan sebagai penyeru resolusi konflik.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi sekaligus Dosen Ilmu Hubungan Internasional UPN “Veteran” Yogyakarta, Dr. Dra. Machya Astuti Dewi, M.Si, menilai posisi Indonesia cukup strategis.

Identitas sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, sekaligus bukan musuh AS, disebut menjadi modal diplomasi yang kuat.

Machya menjelaskan, Indonesia dapat mendorong Iran agar tidak meningkatkan eskalasi konflik karena dampaknya akan merugikan perekonomian negara-negara Islam yang mayoritas berkembang.

Sementara kepada AS, Indonesia bisa menekankan serangan militer berpotensi memunculkan radikalisme yang pada akhirnya merugikan kepentingan ekonomi mereka.

Selain itu, Indonesia juga dapat memanfaatkan posisinya sebagai salah satu pemimpin negara-negara Global South untuk menyuarakan kekhawatiran atas dampak konflik terhadap stabilitas dunia, khususnya keamanan energi dan pangan.

Dukungan dari negara lain diharapkan memperkuat peran Indonesia dalam menjaga stabilitas harga energi global.

Machya menilai jalur diplomasi melalui organisasi internasional dapat dimaksimalkan. Melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Indonesia bisa menggalang dukungan di Sidang Umum, termasuk melalui resolusi Uniting for Peace jika Dewan Keamanan terhambat hak veto.

Di Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), posisi Indonesia yang relatif netral memberi peluang untuk menggalang solidaritas negara-negara Muslim.

Forum G20 juga dinilai penting untuk mengingatkan negara besar mengenai dampak ekonomi global dari konflik.

Machya menekankan, perang IranAS–Israel berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia yang berdampak pada inflasi global. Indonesia, lanjutnya, memiliki rekam jejak menjaga perdamaian dunia melalui kontribusi pasukan penjaga perdamaian PBB.

Menanggapi rencana Presiden Prabowo Subianto yang ingin menjadi mediator, Machya menyebut gagasan tersebut patut diapresiasi.

Namun, efektivitas mediasi masih dipertanyakan mengingat Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

Faktor lain yang menentukan keberhasilan mediasi adalah kemauan politik dari pihak-pihak yang bertikai. Hingga kini, belum ada sinyal kuat bahwa Iran, Israel, maupun AS siap menghentikan serangan dan memulai perundingan.***

Berita Lainnya

Terkini