Yogyakarta – Maraknya isu potensi gempa megathrust dan ancaman gempa di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) belakangan ini kerap memicu kecemasan publik.
Berdasarkan data Pusat Gempa Nasional (Pusgen) tahun 2024, potensi gempa megathrust di selatan Jawa diidentifikasi memiliki magnitudo maksimum mencapai 9,1. Kondisi tersebut menempatkan kesiapsiagaan bencana sebagai kebutuhan krusial bagi masyarakat.
Menjawab tantangan tersebut, Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Tim Sasmita Lindhu melakukan terobosan melalui pendekatan etnoseismologi.
Penelitian ini mengintegrasikan catatan sejarah bencana dalam manuskrip Jawa dengan teknologi dan sains modern.
“Penelitian ini menjadi upaya kami untuk berkontribusi dalam membangun Yogyakarta tangguh gempa melalui pemanfaatan manuskrip Jawa,” ungkap Ketua Tim Sasmita Lindhu, Aliffa Aprilyani, di kampus UGM, Yogyakarta.
Kata Sasmita sendiri bermakna tanda, sedangkan lindhu berarti gempa bumi. Melalui penamaan tersebut, tim peneliti menggabungkan catatan bencana masa lalu dengan data modern guna mengungkap pola kegempaan secara komprehensif, sekaligus memperkuat ketangguhan masyarakat di wilayah rawan bencana.
Inovasi ini dinilai mampu mengisi celah dari riset mitigasi sebelumnya yang umumnya hanya bertumpu pada instrumen modern.
Tim Sasmita Lindhu memadukan arsip manuskrip Jawa dengan catatan gempa kolonial karya peneliti Belanda Arthur Wichmann (1538–1877) serta data kegempaan modern dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS).
Kombinasi interdisipliner ini memungkinkan tim untuk menelusuri jejak dan pola gempa bumi di Yogyakarta hingga lebih dari 400 tahun ke belakang.
Berbagai narasi peristiwa dan petunjuk keselamatan masa lalu tersebut kemudian dikuantifikasi ke dalam skala Modified Mercalli Intensity (MMI) serta diolah melalui pemodelan statistik Gutenberg-Richter untuk menghasilkan peta perkiraan gempa yang akurat.
Proses pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dan observasi lapangan secara mendalam. Tim mengkaji serta mentransliterasi arsip beraksara Jawa di sejumlah pusat naskah, seperti perpustakaan Museum Sonobudoyo, Pura Pakualaman, dan Keraton Yogyakarta, serta didukung literatur filologi berupa artikel ilmiah.
Tidak hanya berhenti pada kajian pustaka, validasi data kualitatif juga ditempuh melalui wawancara terstruktur dengan para Abdi Dalem selaku pelaku budaya dan penyintas langsung gempa DIY tahun 2006.
Pendekatan sosial humaniora ini diterapkan untuk menggali memori kolektif masyarakat, memetakan praktik kearifan lokal yang masih bertahan, serta mengukur tingkat pemahaman warga terhadap risiko bencana.
Penelitian inovatif ini berhasil meraih pendanaan resmi dalam ajang PKM-RSH tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Tim Sasmita Lindhu terdiri atas tiga mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, yakni Aliffa Aprilyani, Firdausi Nuzula, dan Maysa Putri Fatihah, serta dua mahasiswa Fakultas Teknik, yaitu Iwan Dwi Ferdianto dan Akmal Kurniawan.
Seluruh rangkaian riset ini berjalan di bawah bimbingan dosen pendamping Dr. Aprillia Firmonasari, S.S., M.Hum., DEA.
Melalui penelitian ini, tim menargetkan sejumlah luaran strategis, di antaranya Model Transformasi Resiliensi gempa berbasis budaya dalam bentuk policy brief, Peta Tinjauan Paleoseismisitas (1867), Peta Korelasi Spasial Historis Kegempaan DIY, serta Peta Kerentanan Permukaan dan Resiliensi Masyarakat DIY.
Luaran-luaran tersebut diharapkan mampu mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada poin 4 (Pendidikan Berkualitas), poin 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan), poin 13 (Penanganan Perubahan Iklim), serta poin 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui sinergi bersama instansi terkait seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).(*)
* Penulis: Maysa Putri Fatihah (mahasiswa semester 7 Jurusan Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)

