Jejak Perjuangan Kaum Perempuan dalam Sinema Dunia

21 April 2015, 06:35 WIB

IMG 9450s

Kabarnusa.com – Memperingati Hari Kartini sekaligus memaknai Women’s International Day sebuah film bertajuk Perempuan Dalam Sinema bisa menjadi perenungan dalam melihat jejak perjuangan tangguh perempuan dunia.

Kegiatan dihelat Bentara Budaya Bali bekerjasama Kalyana Shira Foundation, Alliance Française Bali dan Institut Français d’Indonésie (IFI), Konsulat Jenderal Jepang di Denpasar, Japan Foundation, serta Udayana Science Club digelar pada Sabtu-Minggu, 18-19 April lalu di Bentara Budaya Bali, Jalan Ida Bagus Mantra No. 88A, Ketewel.

“Program yang menghadirkan film-film lintas bangsa ini, memperbincangkan sosok dan problematik seputar perempuan,” ujar koordinator program Vanesa Martida belum lama ini. 

Tidak hanya berhenti sebagai ‘objek’ yang senantiasa diperbincangkan dalam film, acara ini juga menampilkan film-film karya sutradara perempuan, peraih berbagai penghargaan internasional yang menarik untuk disimak.

Film yang diputar pada hari pertama 18 April adalah Perempuan Punya Cerita (Sutradara: Nia Dinata), Hankyū Densha (Sutradara: Yoshishige Miyake) dan Tanah Mama (Sutradara: Asrida Elizabeth).

Ketiga film tersebut menggambarkan fragmen kisah hidup perempuan berikut problematik yang dialaminya mulai dari kota-kota besar di Indonesia hingga Jepang; berikut problem ketidakadilan yang dialami perempuan di Papua.

Acara hari pertama juga dimaknai dengan pertunjukan nyanyian seriosa oleh Keshia, khusus membawakan lagu-lagu yang melatarbelakangi film-film ternama, semisal God Father; dengan beberapa judul lagu, di antaranya: Somewhere Over the Rainbow; Think of You; dan Speak Softly Love.

Pemutaran film hari kedua (19/4) dibuka dengan suguhan apik sinema karya sutradara mumpuni Indonesia, Garin Nugroho, bertajuk Daun di Atas Bantal.

Fil  mengisahkan perjuangan hidup seorang perempuan bernama Asih (dibintangi oleh Christine Hakim) yang berupaya merawat tiga anak jalanan yang dianggapnya sebagai anak sendiri dengan segala masalah dan tantangan yang menyertainya.

“Kegiatan ini dirangkaikan dengan sesi diskusi membahas lebih jauh mengenai problematik yang dialami oleh perempuan baik yang terefleksikan dalam sinema maupun realitas yang terjadi di Indonesia, khususnya Bali.

Hadir narasumber Ni Putu Sri Harta Mimba, PhD, seorang dosen Universitas Udayana yang aktif dalam kegiatan pemberdayaan perempuan,” ujar Juwitta K. Lasut, penata acara di Bentara Budaya Bali.

Pada sesi diskusi yang berlangsung, Sri Harta Mimba, PhD menegaskan mengenai pentingnya meraih pendidikan setinggi-tingginya bagi semua perempuan berbagai kalangan agar memiliki kemampuan untuk mengatasi berbagai permasalahan atau tantangan yang dihadapi.

Meskipun pendidikan formal penting untuk ditempuh, namun pendidikan secara informal juga tidak boleh terabaikan.

Acara hari kedua ditutup suguhan film menarik karya sutradara Lebanon, Nadine Labaki bertajuk Caramel. Film ini telah meraih berbagai penghargaan Internasional, semisal: Youth Award San Sebastián 2007; FIPRESCI Prize in Stockholm Film Festival 2007.

Film Caramel yang berbahasa Arab dan Perancis ini menceritakan problematik lima perempuan beragam usia yang berkumpul dan bersahabat di kota Beirut, Lebanon. Meskipun film ini bersetting tempat di Lebanon, sang sutradara sama sekali tidak menampilkan latar perang, namun lebih memilih menyuguhkan sisi pahit-manis kehidupan para perempuan. (gek)

Artikel Lainnya

Terkini