Keutamaan Taubat: Allah Begitu Mencintai Hamba yang Kembali kepada-Nya

Mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, Khatib Sahrul mengatakan setiap anak Adam pasti pernah berbuat kesalahan (khattāwun), namun sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang mau bertaubat.

2 Oktober 2026, 12:18 WIB

Gianyar – Suasana khidmat terlihat saat pelaksanaan salat Jumat di Masjid Chandra Asri, Batubulan, Sukawati, Gianyar, pada Jumat, 2 Oktober 2026.

Bertindak sebagai Imam dan Khatib pada kesempatan tersebut, Sahrul Hamid, menyampaikan khotbah yang menggugah hati jamaah mengenai pentingnya menyegerakan taubat dan luasnya rahmat Allah SWT.

Dalam khotbahnya, Sahrul mengingatkan manusia adalah tempatnya salah dan dosa. Mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, ia menyebutkan setiap anak Adam pasti pernah berbuat kesalahan (khattāwun), namun sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang mau bertaubat.

“Allah Subhanahu Wa Ta’ala benar-benar mencintai dan suka jika hamba-Nya senantiasa bertaubat dan mensucikan diri,” ujarnya di hadapan para jamaah.

Ia juga mengutip ayat Al-Qur’an dari Surah An-Nur ayat 31 yang menyerukan agar seluruh orang beriman bertaubat agar senantiasa memperoleh keberuntungan.

Untuk mengilustrasikan betapa besarnya kegembiraan Allah SWT atas taubat seorang hamba, khatib mengisahkan perumpamaan indah tentang seorang musafir di padang pasir.

Dalam kisah tersebut, seorang laki-laki yang kehilangan unta pembawa bekalnya di tengah padang pasir yang panas sempat diliputi putus asa hingga menunggu kematian.

Namun, ketika ia mendapati untanya kembali secara ajaib di bawah pohon tempatnya tidur, ia begitu bahagia sampai-sampai salah berucap karena terlampau gembira—menyebut Allah sebagai hambanya dan dirinya sebagai tuhan.

Nabi SAW bersabda,  Allah SWT jauh lebih gembira dengan taubat hamba-Nya melebihi kegembiraan laki-laki dalam kisah tersebut. Hal ini menunjukkan betapa Allah membuka pintu ampunan seluas-luasnya bagi hamba yang mau kembali kepada-Nya, bahkan mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW yang maksum tetap beristighfar hingga 100 kali dalam sehari.

Di akhir khotbahnya, khatib mengingatkan para jamaah agar tidak mudah tertipu oleh bisikan setan yang kerap menunda-nunda niat baik untuk bertaubat. Setan selalu membisikkan agar seseorang menunda taubat karena merasa dosanya masih terlalu banyak.

Padahal, merujuk pada penjelasan Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala, seseorang tidak boleh menunda taubatnya, dan Allah SWT senantiasa menerima taubat hamba-Nya.

Melalui khotbah Jumat ini, para jamaah di Masjid Chandra Asri diajak untuk terus menjaga hubungan dengan Sang Pencipta, memperbanyak istighfar, dan segera meninggalkan kubangan dosa tanpa menunda-nunda kesempatan untuk memperbaiki diri.***

Berita Lainnya

Terkini