Menilik Wajah Kesehatan Mental di RSJ Grhasia: Dari Skizofrenia hingga Jeratan Candu Digital

Selain skizofrenia dan gangguan bipolar yang banyak menyerang usia produktif RSJ Grhasia menaruh perhatian pada layanan psikiatri anak remaja

6 Januari 2026, 19:12 WIB

Sleman– Di balik dinding RSJ Grhasia Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terekam sebuah realitas kesehatan mental yang kian kompleks. Meski diagnosis skizofrenia masih mendominasi ruang rawat, sebuah ancaman baru mulai merangkak naik dan menyasar generasi muda: kecanduan digital.

Direktur RSJ Grhasia DIY, dr. Akhmad Akhadi S, mengungkapkan, mayoritas pasien yang mereka tangani masih berjuang melawan skizofrenia.

Gangguan ini bukan sekadar perubahan suasana hati, melainkan guncangan pada pola pikir, perilaku, hingga hilangnya kemampuan dasar untuk merawat diri sendiri.

“Kasus terbanyak masih skizofrenia. Ini adalah gangguan kompleks yang melibatkan waham dan gangguan perilaku yang luas,” ujar dr. Akhmad saat ditemui pada Senin (5/1/2026).

Menariknya, tipe skizofrenia tak terinci menjadi yang paling sering ditemui. Gejalanya yang samar dan tidak mengerucut pada satu kategori spesifik justru menjadi tantangan tersendiri bagi tenaga medis dalam proses penyembuhan.

Selain skizofrenia dan gangguan bipolar yang banyak menyerang usia produktif (40-50 tahun), RSJ Grhasia kini menaruh perhatian serius pada layanan psikiatri anak dan remaja.

Fenomena kecanduan non-zat kini bukan lagi isapan jempol. dr. Akhmad menyoroti bagaimana game online dan pinjaman online (pinjol) mulai menyelinap masuk sebagai faktor pemicu gangguan mental.

“Kecanduan itu terjadi saat aktivitas dilakukan terus-menerus, dan ketika dihentikan, muncul gangguan perilaku seperti tantrum atau kegelisahan ekstrem,” jelas dr. Akhmad.

Pada anak-anak, kecanduan game seringkali mengubah kepribadian mereka. Perilaku agresif di dunia maya tak jarang terbawa ke dunia nyata, mengganggu fungsi sosial mereka sehari-hari. Apa yang semula dianggap sebagai sarana pelepas penat, justru berbalik menjadi pemicu stres yang merusak.

dr. Akhmad menegaskan, gangguan jiwa tidak muncul secara tiba-tiba atau karena satu alasan saja. Ia menyebutnya sebagai multifaktorial.

Genetik: Berperan sebagai ambang kerentanan (predisposisi).

Psikologis: Tekanan mental dan stres yang berkepanjangan.

Lingkungan: Faktor eksternal dan penyakit tertentu yang memperparah kondisi.

Proses penyembuhan di RSJ Grhasia bukanlah sebuah jalan pintas. Dengan rata-rata perawatan 5 hingga 28 hari, fokus utama rumah sakit yang menjadi rujukan hingga ke Cilacap dan Pacitan ini adalah rehabilitasi berkelanjutan.

“Penanganan gangguan mental tidak bisa instan. Pasien butuh terapi lanjutan agar mereka bisa kembali berfungsi normal dan diterima kembali di tengah masyarakat,” pungkasnya.***

Berita Lainnya

Terkini