Yogyakarta -Di tengah riuh prosesi wisuda Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), kisah Muis Dela Pondesta menjadi sorotan.
Lulusan Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya ini menorehkan perjalanan inspiratif sebagai penyandang autisme dan bipolar, dua disabilitas tersembunyi yang kerap luput dari perhatian namun nyata menghadirkan tantangan dalam dunia akademik.
Sejak kecil, Muis menunjukkan minat besar pada bahasa Inggris meski didiagnosis mengalami gangguan perkembangan global dan keterlambatan bicara.
Kondisi tersebut membuat komunikasi dan adaptasi sosial tidak mudah. Namun, warga Sumberadi, Mlati, Sleman itu tetap menempuh pendidikan di sekolah reguler hingga akhirnya diterima di UNY melalui jalur SNMPTN.
Memasuki bangku kuliah, tantangan semakin kompleks. Interaksi sosial di kelas yang ramai sering memicu ketidaknyamanan, bahkan membuatnya harus keluar masuk ruang kuliah untuk menenangkan diri.
Mata kuliah listening menjadi hambatan terbesar karena menuntut kecepatan dalam mendengar dan memahami informasi, sesuatu yang sulit bagi individu dengan spektrum autisme.
“Dalam beberapa kesempatan, saya juga mengalami kesulitan mengikuti tugas kelompok akibat keterbatasan interaksi sosial, yang berdampak pada pengulangan mata kuliah,” ujarnya, Rabu (25/2/2026).
Meski demikian, langkah Muis tidak berhenti. Dukungan dosen dan pihak kampus menghadirkan berbagai penyesuaian akademik, mulai dari tambahan waktu pengerjaan tugas dan ujian, ruang belajar yang lebih tenang, hingga layanan konseling. Lingkungan yang suportif menjadi kunci keberlanjutan studinya.
Tak hanya di bidang akademik, Muis aktif berkontribusi dalam pengelolaan laboratorium komputer FBSB serta kegiatan sosial dan literasi.
Ia pernah menjadi ketua divisi media organisasi fakultas, menggerakkan budaya membaca bagi anak-anak TK di Bantul, hingga dipercaya sebagai asisten dosen pada bidang sastra anak.
“Aktivitas tersebut menjadi ruang aktualisasi diri sekaligus sarana membangun kepercayaan diri,” katanya.
Bagi alumni SMAN 1 Seyegan itu, wisuda bukan sekadar akhir studi, melainkan simbol bahwa disabilitas, termasuk yang tidak kasatmata, tidak membatasi seseorang untuk berprestasi.
Ia berharap kisahnya membuka ruang dialog lebih luas tentang autisme dan disabilitas mental di pendidikan tinggi, serta mendorong terciptanya ekosistem kampus yang inklusif.
“Keluarga menjadi salah satu pilar terpenting dalam perjalanan saya. Dukungan emosional, pendampingan, serta kepercayaan orang tua membantu saya bertahan menghadapi tekanan akademik dan sosial,” ucapnya.
Menutup perjalanannya di UNY, Muis berhasil meraih predikat cumlaude dengan IPK 3,54. Sebuah pencapaian yang menegaskan dengan dukungan, ketekunan, dan lingkungan inklusif, mahasiswa autis mampu berprestasi setara dan bermartabat. Ke depan, ia berharap dapat melanjutkan studi dengan beasiswa.
Ia juga berpesan kepada sesama penyandang disabilitas untuk menjaga pola emosi dan stres, karena manajemen diri menjadi kunci agar tetap baik-baik saja.
“Penyandang disabilitas turut berdaya selaras dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016, yang menegaskan kesamaan hak untuk berprestasi,” pungkasnya. ***

