Nuanu Creative City Persembahkan Dukungan bagi Praktik Fotografi Jangka Panjang

25 September 2026, 22:28 WIB

Nuanu Creative City, Bali – Dua fotografer Indonesia, Rudi Waisnawa asal Bali dan Irene Barlian asal Jakarta, terpilih sebagai penerima perdana FOTO Bali Award.

Penghargaan ini dipersembahkan oleh Nuanu Social Fund (NSF) dan diinisiasi oleh FOTO Bali Festival, sebuah festival fotografi internasional yang baru diluncurkan di Bali.

Keduanya dipilih dari hampir 100 pendaftar dan masing-masing menerima dukungan sebesar Rp22 juta untuk keberlanjutan praktik fotografi mereka.

FOTO Bali Award berbeda dengan skema pendanaan berbasis proyek karena memberikan dukungan finansial tanpa kewajiban menghasilkan karya baru, sehingga penerima dapat melanjutkan praktik fotografi yang sudah mereka tekuni.

Rudi Waisnawa, melalui proyek Hope and Freedom, telah mendokumentasikan kehidupan orang dengan kondisi kesehatan mental di Bali sejak 2014. Karya ini kemudian berkembang menjadi buku fotografi bersama Nicky Hogan.

“Saya berharap penghargaan ini membuka ruang lebih luas bagi masyarakat untuk memahami kehidupan orang dengan kondisi kesehatan mental, yang kisah-kisahnya layak dihargai dengan penuh martabat,” ujar Rudi Waisnawa.

Sementara itu, Irene Barlian memulai proyek Land of the Sea pada 2020, yang mendokumentasikan dampak perubahan iklim terhadap masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Proyek ini mendapat dukungan dari National Geographic Society dan masuk daftar pendek Leica Oskar Barnack Award 2022

“Land of the Sea adalah kisah tentang dampak perubahan iklim di Indonesia, melalui sudut pandang masyarakat terdampak. Penghargaan ini mendorong saya untuk terus berkarya dan menceritakan kisah-kisah yang paling berarti,” kata Irene Barlian.

Kelsang Dolma, Founding Director FOTO Bali Award dan FOTO Bali Festival, menekankan penghargaan ini hadir untuk mengapresiasi kerja panjang fotografer yang sering luput dari perhatian.

“Bagi fotografer seperti Rudi dan Irene, yang tersisa setelah sebuah gambar adalah kerja bertahun-tahun yang jarang mendapat dukungan finansial sepadan. Melalui penghargaan ini, kami ingin memberikan apresiasi sebagaimana adanya,” jelas Dolma.

Ida Ayu Astari Prada, Head of Nuanu Social Fund, menambahkan karya keduanya berada di persimpangan isu sosial dan lingkungan.

“Mendukung fotografer yang konsisten mendalami isu-isu ini selama bertahun-tahun adalah bagian penting dari alasan Nuanu Social Fund hadir, dan komitmen ini akan terus kami jaga,” ujarnya.

Dewan juri FOTO Bali Award terdiri dari Ng Swan Ti (Managing Director PannaFoto Institute), Dr. Wiyu Wahono (kolektor seni kontemporer Indonesia), dan I Made Bayu Pramana (fotografer sekaligus akademisi ISI Bali).

Penjurian dilakukan dengan mempertimbangkan kekuatan artistik, pendekatan visual, kedalaman konsep, serta koherensi narasi. Ng Swan Ti menilai penghargaan ini memberi pengakuan terhadap praktik fotografi jangka panjang.

“Dukungan langsung dari festival membuka lebih banyak kesempatan bagi fotografer untuk berkembang,” ujarnya. Dr. Wiyu Wahono menekankan peran seni dalam merefleksikan realitas sosial dan lingkungan.

“Fotografi merekam peristiwa dan membuka ruang pemahaman lebih dalam terhadap persoalan masyarakat,” katanya. Sementara itu, I Made Bayu Pramana menyoroti relevansi fotografi dalam membentuk ingatan kolektif.

“Praktik fotografi seperti ini menunjukkan bagaimana fotografi tetap relevan dalam mendokumentasikan sekaligus memaknai realitas kehidupan di Indonesia,” ujarnya.***

Berita Lainnya

Terkini