Denpasar. Suasana penuh kehangatan mewarnai pertemuan antara Wakil Gubernur NTT, Irjen Pol (Purn) Johni Asadoma, bersama rombongan kepala daerah dari daratan Sumba dengan Gubernur Bali, Wayan Koster, di Kertha Sabha, Denpasar, Jumat (30/1/2026).
Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam upaya merajut kembali harmoni antara masyarakat Bali dan NTT. Dalam rapat koordinasi yang turut dihadiri jajaran pejabat tinggi Bali dan NTT, dibahas langkah antisipasi terhadap potensi konflik horizontal yang sempat mencederai ketentraman masyarakat Bali.
Di hadapan Gubernur Bali dan tokoh masyarakat, Johni Asadoma menyampaikan permohonan maaf tulus atas tindakan segelintir oknum warga NTT yang dalam beberapa tahun terakhir mengganggu ketenangan Pulau Dewata.
“Kami memohon maaf kepada seluruh masyarakat Bali, Pemerintah, tokoh agama, dan tokoh adat. Kami sadar tindakan oknum tersebut telah mencederai keharmonisan dan kedamaian yang selama ini terjaga,” ujar Asadoma.
Ia menegaskan, warga NTT yang merantau ke Bali maupun daerah lain harus mampu beradaptasi, menghormati adat istiadat, serta menaati norma hukum yang berlaku.
Kehadiran mereka diharapkan memberi kontribusi positif bagi pembangunan, kesejahteraan, dan persatuan bangsa.
Gubernur Bali Wayan Koster menyambut baik permohonan maaf tersebut. Ia menekankan pentingnya sinergi strategis antara Bali dan NTT, termasuk penguatan komunikasi budaya, ruang dialog, serta penegakan hukum yang tegas dan proporsional.
Untuk mencegah masalah serupa, Koster mendorong adanya syarat administratif bagi warga NTT yang hendak bekerja ke luar daerah, berupa rekomendasi pemerintah daerah asal dan pakta integritas.
“Dengan adanya syarat keluar dari NTT, maka kami di Bali juga akan menerapkan syarat masuk. Tujuannya agar warga yang datang benar-benar siap bekerja, menghormati aturan, dan menjaga budaya setempat,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut, Pemprov Bali akan mendata keberadaan warga NTT hingga tingkat desa adat, serta menggelar pertemuan dengan kontraktor agar tenaga kerja memiliki kepastian kerja dan tidak terjerumus ke dalam masalah sosial.
Pertemuan ini menjadi tonggak baru untuk memperkuat persaudaraan Bali–NTT, demi menjaga kedamaian, kerukunan, dan persatuan dalam bingkai NKRI.***

