Pengakuan UNESCO Jadi Inspirasi Seniman Tari Bali

13 Desember 2015, 07:14 WIB

Kabarnusa.com – Pengakuan internasional dari badan dunia UNESCO terhadap sembilan tari tradisi Bali sebagai warisan budaya dunia tak benda kian menjadi inspirasi dan motivasi bagi para seniman di Pulau Seribu Pura ini untuk berkreasi menciptakan karya-karya mereka.

Diketahui, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani menyatakan tiga golongan tari tradisi Bali telah ditetapkan, masuk daftar Representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia.

Keputusan itu, telah disepakati 24 negara anggota Komite AntarPemerintah untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda UNESCO (Intergoverment Commmittee for Safeguarding the Inthangable Culture Heritage UNESCO).

Kepala Dinas Kebudayaan Bali Dewa Putu Beratha menyatakan, pengakuan dunia atas hasil kebudayaan tari tradisi Bali itu tentunya, menjadi tanggungjawab besar bagi Pemerintah Bali dan masyarakat untuk melestarikannya.

“Pemerintahan di Bali berkewajiban memberi dukungan dan kebijakan melindungi dan melestarikan tari tradisi Bali ini,” tuturnya usai malam pentas seni dan budaya di Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar, Sabtu (12/12/2015) malam

Salah satu cara yang tengah dilakukannya, mendukung bagaimana kebijakan dan peran pendidikan dasar sampai perguruan tinggi maupun sekkaa, lembaga adat sebagai benteng benteng tradisi dalam melestarikan tari Bali.

Hal sama disampaikan seniman dan budayawan mantan Rektor ISI Denpasar Prof Wayan Dibia, dengan pengakuan dunia ini, tentunya menjadi inspirasi dunia seni budaya Bali.

Khususnya seniman, bagaimana menggunakan elemen tari Bali, menjadi kreasi dan garapan baru.

“Ini sekaligus menjadi rangsangan baru bagi seniman untuk berkreasi meningkatkan kreativitas mereka,” tutur Prof  Dibia.

Di mata budayawan yang mantan Rektor ISI Denpasar Prof Made Bandem, penetapan tari tradisi Bali oleh UNESCO, bukan merupakan hak cipta, melainkan pemberian kesempatan bagi Bali untuk upaya-upaya pelestarian sembilan tari yang terbagi dalam tiga varian atu jenis itu.

“Sembilan tarian ini, mewakili seluruh tarian Bali secara keseluruhan sejak zaman lampau, prasejarah hingga sekarang atau abad 14 sampai 19,” jelas dia.

Menurutnya, tarian Bali yang berkembang hingga abad 19, menggambarkan bagaimana kekhasan yang berbeda dengan tarian lannya di nusantara maupun dunia laiannya.

Gaya tari, ciri pokok tari Bali itu pada cara berdiri, cara pokok, lutut keluar. ini berbeda dengan tarian luar atau modern.

“Ttari Bali punya ekspresi luar biasa pada gerakan mata, yang khas dan kostum yang khas, karena itu kami yakin bisa diterima UNESO,” sambungnya.

Diketahui, Tim Peneliti Pusat Penelitian dan Pengembanan Kebudayaan termasuk melibatkan pakar budaya Gaura Mancacaritadipura yang menyusun berkas Tari Tradisi Bali sejak tahun 2010-2011.

Penelitian kala itu difasilitasi Gubernur Bali Made Mangku Pastika, Rektor ISI Professor Wayan Dibya kala itu dan mantan Rektor ISI Denpasar Professor Made Bandem.

Disebutkan, penelitian dirancang dengan memilih 9 jenis tari Bali dan jenis Wai (Sakral), Bebali (semi-sakral), Balih-Balihan( tari hiburan) yang ditemukan di 9 Kabupaten Kota di Pulau Dewata, untuk mewakili semua tarian Bali.

Penelitian melibatkan, penari, komunitas tari Bali, pemuda, pakar, guru, tokoh adat dna agama, seniman dan budayawan secara luas.

Professor Wayan Rai mengungkapkan, sembilan jeins tari Bali itu yang diangkat dalam berkas yakni Rejang Dewa (klungkung), Sang Hyang Dedari (Karangasem), Baris Upacara (Bangli), Gmabuh (gianyar), Wayang Wong (Buleleng), Topeng Sidakarya/ Topeng Pejengan (Denpasar), Legong Kraton (Denpasar), Joged Bumbung (Jembrana) dan Barong Ket Kuntisraya (Badung). (rhm)

Artikel Lainnya

Terkini