Pentingnya Pendidikan Antar Budaya untuk Keterbukaan Global

17 April 2015, 03:47 WIB

IMG 20150406 125102

Kabarnusa.com – Menanamkan nilai-nilai tentang pemahamaan budaya antar bangsa bagi siswa dan generasi muda menjadi penting ditekankan sejak bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi dalam memasuki keterbukaan global.

Menurut penyair kenamaan Indonesia Taufik Ismail, pertemuan seperti Konferensi Intercultural Asia Pasific (AFS) yang pertama digelar di Bali itu, memiliki makna penting dalam upaya memahami budaya antar bangsa.

Kata Taufik, dengan memahami budaya antar bangsa itu bisa lebih mempererat hubungan antar bengsa dan mempererat pergaulan global, yang dilandasi perdamaian atau humanity.

Awalnya AFS beranggotakan 7 orang dan hanya melakukan pertukaran pelajar ke Amerika saja namun sekarang sudah melebar ke 15 negara dengan tujuan agar bisa terjadi saling memahami masalah antar bangsa.

Pada waktu itu, keadaan dunia tidak segalau seperti ini,pemahaman itu dikategorikan dalam keadaan sangat ideal waktu itu.

” Ini berlanjut terus sampai seperti ini (ke 15 Negara),”ujar Taufik yang anggota AFS angkatan pertama ini di Sanur, Denpasar Kamis 16 April 2015.

Dia mencontohkan,sejak tahun 1956 sudah banyak tokoh yang terkenal hasil dari mengikuti AFS seperti Yahya Muhaimin dan Anies Baswedan yang menjadi Menteri Pendidikan Menengah.

Kegiatan dihadiri lebih dari 100 peserta dari berbagai belahan dunia juga dihadiri oleh pembicara dari negara Cina, India, Jepang dan Malaysia. (Her/SB)

Termasuk bagi peneliti, pembuat kebijakan, praktisi, akademi, guru, mahasiswa dan profesi  yang akan  mengikuti The First Asia Pacific Regional Intercultural Conference. Acara ini diselengarakan oleh AFS (American Field Service) yang bekerjasama dengan Bina Bina Antarbudaya.

“Kami merasa terhormat bisa menyelenggarakan The First Asia Pacific Konferensi Intercultural Asia Pasifik pertama di Bali ini,” kata Ketua Panitia Pengarah, Anggota Dewan Penasihat Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI, Dr Irid Agoes.

Agoses merupakamn sekaligus pendiri AAI (Asia Pacific Initiative), Yayasan Bina Antarbudaya, SIETAR Indonesia ini  di sela Konferensi.

Konferensi membicarakan pentingnya pendidikan antarbudaya, pergaulan global sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat, pendidik, sekolah dan orang banyak khususnya di kawasan Asia Pasifik. (rhm)

Artikel Lainnya

Terkini