Perlu Sinergi Masyarakat Lawan Jurnalisme Provokatif dan Hoax

22 Maret 2017, 13:56 WIB

Tangkal Jurnalisme Provokatif dan Hoax Suaradewata Gelar Diskusi Kebangsaan 796222

TABANAN – Masyarakat dari berbagai elemen harus membangun sinergitas dalam menangkal berita atau informasi yang mengandung kebohongan dan provokatif atau hoax yang belakangan kian marak seiring mudahnya mengakses internet.

Menyadari maraknya berita palsu alias hoax dan provokatif yang beredar di internet khususnya media website belakangan ini, akan menyesatkan banyak orang. Bahkan lebih dari itu berita hoax dapat mengancam persatuan dan keutuhan NKRI.

Mirisnya, berita hoax dijadikan alat oleh sesorang atau kelompok tertentu untuk kepentingan tertentu dengan target tertentu pulaseperti mempropagandakan berbagai idiologi yang bertentangan dengan dasar Pancasila serta berbagai propaganda yang memprovokasi intoleransi yang berdampak rusaknya rasa kebangsaan.

“Atas hal itu kami berkewajiban menangkal beredarnya berita hoax dengan menggelar diskusi kebangsaan berthema ‘Upaya Konkret Menangkal Jurnalisme Provokatif dan Hoax pada Media Website’,” jelas Pemimpin Redaksi Suaradewata.com Ketut Sugina, dalam siaran persnya, Rabu (22/3/17).

Diskusi rencanya digelar pada, Kamis (23/03/17) di Warung BE-Jawa, jalan raya Teratai, nomer 45, Dukuh, Tabanan Bali.

Menurut Sugina, yang melatarbelakangi digelarnya diskusi tersebut karena melihat pesatnya perkembangan internet saat ini menjadi ladang informasi tanpa batas dengan penyebaran cepat dan cakupan luas bagi masyarakat.

“Di zaman sekarang siapapun bisa mengakses internet guna mengetahui sebuah peristiwa di mana saja dan kapan saja,” sambung mantan jurnalis Radar Bali itu. Selain itu internet kini bisa dijadikan media belajar tentang apa saja cukup dengan mengetik kata kunci di kolom mesin pencari.

Namun disisi lain kemajuan teknologi tersebut dapat berakibat negatif, ada konsekuensi dari sebaran informasi, terlebih ketika semua orang bebas berperan sebagai sumber informasi. “Konsekuensi itu adalah buramnya dinding pembatas antara fakta dan hoax,” ucapnya.

Atas penomena tersebut diperlukan sinergitas berbagai elemen masyarakat untuk bahu membahu menyuarakan anti berita provokatif hoax. Lebih dari itu bagaimana merumuskan langkah-langkah konkret menangkal penyebaranjurnalisme provokatif danhoax di media website yang dapat memecah belah persatuan dan mengancam keutuhan NKRI.

Diharapkan, lewat diskusi ini mampu meminimalisir bahkan menangkal berbagai jurnalisme/berita provokatif dan hoax seperti propaganda kelompok kepentingan yang merusak sendi-sendi kebangsaan maupun kelompok radikal, separatisme dan komunisme yang belakangan gencar memanfaatkan keleluasaan dan kebebasan media bahkan propaganda asing.

Apalagi, Bali yang merupakan destinasi internasional serta menjadi sasaran kelompok radikal juga sebagai salah satu basis kelompok separatis Papua dalam melakukan konsolidasinya. Selain itu diskusi ini kata dia untuk menggali dan mengoptimalkan peran perskhususnya jaringan media online di Bali melalui literasi media dalam rangka menangkal Website-website provokatif dan penyebar hoax.

Disamping itu guna mengidentifikasi dan memetakan potensi dan kekuatan peran perskhususnya jaringan media online di Balidalam konteks kekinian guna menangkal berbagai  propaganda yang merugikan kepentingan nasional.

“Kami juga ingin menggali dan merumuskan peran strategis pers dalam menangkal timbulnya propaganda-propaganda yang merugikan kepentingan nasional melalui berbagai pemberitaan provokatif dan hoaxsekaligus mensinergikan persdi Bali dan berbagai pihakagar lebih partisipatif dalam menangkal propaganda dan jurnalisme berita-berita provokatif dan hoax yang merugikan kepentingan Nasional,” tegasnya.

Sejumlah pembicara dihadirkan Ketua Asosiasi Media Online (AMO) Bali, I Nyoman Setiawan yang juga Pimred metrobali.com, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar Hari Puspita yang juga Korlip Radar Bali, Jawa Pos Group, dan dua orang pengamat media masing-masing Putu Agus Swastika dan Rofiqi Hasan.

Putu Agus Swastika adalah salah satu pengamat media di Bali dan juga Direktur STIMIK Primakara Bali. Rofiqi adalah Mantan Ketua AJI dan Wartawan Tempo. Sedangkan moderator yang akan memandu diskusi tersebut Panca Wardani Lodra perempuan penggiat Public Relation.

Peserta yang akan dihadirkan, kalangan insan Pers khususnya jaringan media online dan penggiat sosial media di Bali.Disamping itu juga diundang para siswa pelajar SMA/SMK, Ormas dan LSM. “Siswa SMA/SMK sengaja kita hadirkan untuk memberikan edukasi kepada mereka, karena saat ini media sosial sangat akrab dengan adik-adik kita yang berstatus pelajar,” imbuhnya.

Terkait capaian kegiatan diharapkan terjalinnya sinergitas persdi Bali khususnya jaringan media online di Balidan berbagai pihakagar lebih partisipatif dan kongkrit dalam menangkal propaganda, dan berita-berita provokatif dan hoax yang merugikan kepentingan Nasional. (rhm)

Artikel Lainnya

Terkini