Pertamina AFT Ngurah Rai Terapkan SDGs Pekerjaan Layak Lewat Konser Amal dan Produk Kerajinan Difabel Beromzet Jutaan

Yayasan Cahaya Mutiara Ubud mencatat lonjakan omzet signifikan usai menjadi mitra binaan Pertamina Patra Niaga AFT Ngurah Rai.

13 Desember 2025, 16:04 WIB

Gianyar – Program pemberdayaan yang fokus dan terukur mampu menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi komunitas yang selama ini terpinggirkan.

Hal ini dibuktikan Yayasan Cahaya Mutiara Ubud komunitas yang dikelola oleh penyandang disabilitas (difabel), yang berhasil mencatat lonjakan omzet signifikan setelah menjadi mitra binaan Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Ngurah Rai.

Melalui program Sahabat Disabilitas Ubud, dukungan Pertamina tidak hanya berbentuk bantuan fisik, melainkan investasi strategis dalam peningkatan kapasitas digital dan manajerial.

Dukungan ini mencakup perbaikan galeri, penyediaan smart cashier, hingga pelatihan digital marketing yang berkolaborasi dengan Benlaris.com.

Hasil dari investasi keterampilan ini langsung terlihat pada peningkatan kinerja dan perubahan mentalitas para anggota yayasan.

Peningkatan Omzet Harian: Karmen (27), penyandang disabilitas fisik, yang semula pemalu, kini mahir melakukan siaran langsung di TikTok untuk mempromosikan kerajinan.

Berkat keterampilan baru ini, ia dan timnya berhasil mendorong omzet penjualan hingga Rp500.000 per hari—sebuah angka yang menunjukkan keberhasilan unit usaha yayasan merambah pasar daring.

Kemandirian Manajerial: Yande (31), penyandang cerebral palsy, kini mengelola promosi melalui Instagram dan WhatsApp serta terbiasa mengoperasikan mesin kasir pintar.

“Setelah menjadi mitra binaan Pertamina, saya lebih percaya diri. Saya belajar percaya pada diri saya sendiri,” ungkapnya, menunjukkan korelasi langsung antara keterampilan teknis dan kemandirian personal.

Yayasan ini juga berhasil menciptakan lini pendapatan baru yang inovatif melalui pariwisata edukatif.

Paket “One Day With Difabel”, sebuah ruang interaksi untuk belajar dan memahami proses kreatif para difabel, menjadi inisiatif yang populer.

Pendapatan Tetap: Sejak diluncurkan pada tahun 2025, paket ini rata-rata mencatat 2–3 kunjungan per bulan dengan pemasukan mencapai Rp6.000.000,- per bulan. Ini membuktikan bahwa produk jasa berbasis pengalaman dan inklusi memiliki nilai jual tinggi.

Selain dari sektor pariwisata, keberanian dan kemampuan seni para difabel yang diasah dan dipromosikan Pertamina (melalui undangan tampil di acara perusahaan) kini juga menghasilkan donasi rutin.

Mereka mampu mengadakan konser amal 2–3 kali sebulan dan menghasilkan donasi hingga Rp7.500.000,- per bulan.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menegaskan bahwa program ini melampaui CSR biasa.

“Pemberdayaan difabel berarti membuka ruang kesempatan yang setara, selaras dengan SDGs khususnya pendidikan berkualitas serta pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi,” ujar Ahad.

Program Sahabat Disabilitas Ubud menjadi model inklusi yang berkelanjutan, memperlihatkan bahwa kolaborasi yang terukur dan berbasis kebutuhan komunitas bukan sekadar kebijakan, melainkan strategi ekonomi yang efektif untuk melahirkan kemandirian dan keberanian untuk bermimpi lebih besar bagi seluruh lapisan masyarakat.***

Berita Lainnya

Terkini