Program Makan Bergizi Gratis di Badung Tuntut Aksi Nyata Keluarga dan Sekolah

keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG) terletak pada sinergi tripartit: Pemerintah, keluarga, dan sekolah

30 November 2025, 15:20 WIB

Badung– Ancaman serius terhadap kesehatan generasi penerus bangsa—mulai dari stunting hingga serangan penyakit tidak menular (PTM)—dijawab dengan pèng buatan  fondasi gizi melalui sosialisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Badung pada Kamis (27/11).

Digelar DPR RI dan Badan Gizi Nasional (BGN), acara ini bukan sekadar seremonial, melainkan panggilan aksi bagi seluruh elemen masyarakat.

Charles Honoris, Anggota Komisi IX DPR RI, menegaskan, ini adalah saatnya Badan Gizi Nasional (BGN) meninggalkan peran pasifnya sebagai regulator.

Ia menuntut BGN tampil sebagai motor penggerak edukasi gizi nasional dan benteng pertama yang melindungi anak-anak dari ‘serbuan’ makanan ultra-proses.

Charles menyoroti dampak mengerikan dari pola konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) berlebih yang memicu lonjakan PTM seperti kanker dan stroke.

“Penyakit tidak menular memiliki keterkaitan erat dengan konsumsi GGL berlebih. Oleh karena itu, kami meminta orang tua untuk lebih sigap dalam mengarahkan anak memilih makanan sehat sesuai panduan WHO,” tegas Charles Honoris.

Ia juga menjamin komitmen DPR untuk memastikan kebijakan gizi berjalan efektif dengan memperkuat kelembagaan.

“Langkah-langkah kecil hari ini akan menentukan masa depan bangsa. Kita ingin anak-anak Indonesia tumbuh kuat, sehat, dan siap menjadi kekuatan ekonomi global,” tambahnya.

Mochammad Halim, Perwakilan Badan Gizi Nasional, meluruskan persepsi publik, menyatakan  MBG jauh melampaui sekadar penyediaan makanan gratis.

Program ini adalah tentang pembentukan kesadaran kolektif akan pentingnya asupan seimbang—di mana setiap hidangan telah dirancang cermat untuk menunjang konsentrasi belajar dan pertumbuhan anak.

“Program ini adalah langkah konkret memastikan generasi muda kita mendapatkan asupan terbaik. Namun, keberhasilannya terletak pada sinergi tripartit: Pemerintah, keluarga, dan sekolah,” ujarnya.

Halim menekankan edukasi gizi harus diinternalisasi sejak dini.

Pemahaman tentang sumber energi, protein, dan nutrisi esensial akan membentuk kebiasaan makan positif yang tertanam hingga dewasa

“Kita ingin anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan cerdas, dan itu dimulai dari makanan yang mereka konsumsi sehari-hari,” tutupnya.

Kesuksesannya bergantung pada kesediaan orang tua dan sekolah untuk aktif mendukung, memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan haknya untuk tumbuh optimal. ***

Berita Lainnya

Terkini