Proyek APBN Diprotes Warga, Dewan Bali Turun Tangan

9 Oktober 2015, 00:00 WIB

TAMBA%2BSidak%2BProyek%2B1

Kabarnusa.com-Sejumlah
warga Desa Tuwed, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali memprotes
pengerjaan proyek peningkatan struktur jalan raya Denpasar-Gilimanuk
khususnya pada pengerjaan drainase karena dianggap mengganggu aktivitas
warga.

Pasalnya, proyek yang dikerjakan PT Nata Jaya hingga kini
belum rampung. Padahal, batas waktu pengerjaan tinggal 12 hari lagi atau
harus kelar pada tanggal 20 Oktober 2015 mendatang.

Akses jalan
masuk ke rumah-rumah warga, juga masih banyak tidak dikerjakan sehingga
warga mengaku kesulitan beraktivitas, terutama mengeluarkan dan
memasukan kendaraannya.

Bagi warga yang mobil atau sepeda
motornya terlanjur di luar rumah terpaksa menitipkannya di rumah warga
lainnya yang tidak kena proyek.

“Yang kendaraannya
terlanjur di dalam rumah juga tidak bisa dikeluarkan,” ujar Wayan
Suerden (65), salah seorang warga setempat, Kamis (8/10/2015).

Bendesa
Pakraman Tuwed Made Derken mengakui banyak yang memprotes lantaran
pihak pelaksana proyek, terlalu lama membiarkan bongkaran drainase tidak
dikerjakan, terutama akses jalan masuk ke rumah warga.

“Sudah
tiga bulan dibiarkan begitu saja sehingga aktipitas warga terganggu.
Seharusnya akses jalan ke rumah warga diprioritaskan sehingga tidak
merugikan warga,” terang Derken.

Mengetahui protes warga tersebut Ketua Komisi III DPRD Provinsi Bali I Nengah Tamba langsung mengecek lokasi pengerjaan proyek.

Dengan
ditemani anggota DPRD Jembrana I Ketut Suastika, Tamba mengecek
pengerjaan proyek tersebut. Termasuk meminta keterangan warga sekitar.

“Kalau
begini cara kerja pihak rekanan jelas warga protes. Masak sudah tiga
bulan bongkaran drainase di depan rumah warga belum ditutup. Jelas
aktipitas warga terganggu,” ujar Tamba.

Tamba menyayangkan beton
dinding drainase yang dicor secara manual, terkesan dikerjakan
asal-asalan, sehingga sudah banyak yang pecah-pecah.

Tamba juga menanyakan spesifikasi proyek kepada pengawas proyek karena pengerjaannya diduga melanggar spek teknis.

“Informasinya,
proyek ini speknya menggunakan betok udid atau prikest. Tapi kenapa
menggunakan beton yang dicor manual,” kata Tamba.

Pengawas Proyek Made Suarsa berjanji akan mengintruksikan kepada pihak proyek untuk memprioritaskan akses jalan ke rumah warga.

“Kami juga akan tekankan para pekerja agar bekerja lebih oftimal sehingga pengerjaanya tempat waktu,” imbuhnya. (dar)

Artikel Lainnya

Terkini