Ribuan Umat Hindu Kuta Gelar Ritual Tolak Bala

7 Desember 2015, 10:06 WIB

Kabarnusa.com – Ribuan umat Hindu di Desa Adat Kuta Kabupaten Badung, Bali menggelar ritual tolak bala atau upacara Nangluk Merana yang bertujuan menetralisasi alam semesta dari hal negatif termasuk bencana alam dan serangan wabah penyakit.

Ritual dipusatkan di setiap perempatan di wilayah kampung turis itu, sehingga akses jalan menuju kawasan wisata Kuta ditutup sementara, Senin (7/12/2015).

Masyarakat termasuk wisatawan diimbau untuk menyesuaikan diri, jika hendak melewati jalan-jalan menuju Kuta.

“Kami laksanakan upacara Nangluk Merana untuk memohon keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa, untuk bertujuan menetralisasi alam semesta dari hal negatif seperti bencana alam hingga wabah penyakit,” jelas tokoh adat Kuta, Dewa Gede Mayun

Lewat uUpacara Nangluk Merana ini, sebagai penolak bala yang berfungsi menetralisir alam agar kembali harmoni antara manusia, alama dan Tuhan.

Kegiatan upacara Nangluk Merana digelar setiap satu tahun sekali tepatnya tiap Sasih Kajeng Kliwon pada kalender Bali ini.

Ritual berlangsung hampir di seluruh perempatan yang ada di Kuta mulai pukul 08.30 Wita hingga pukul 14.00 Wita.

“Akses jalan menuju kawasan Kuta akan ditutup sementara dan siangnya diberlakukan sistem buka tutup. Hal itu untuk memperlancar upacara Nangluk Merana,” tukas tokoh Puri Satria Dalem Kaleran ini.

Disebutkan, ada enam barong yang diarak keliling lingkungan desa Kuta dalam ritual sakral ini.

Hal itu menjadi simbol kebaikan bersama dengan benda suci dari Pura diyakini mampu mengusir roh dan hal negatif yang bersemayam di desa.

“Dengan begitu, masyarakat bisa terbebas dari marabahaya dan wabah penyakit,” sambung Dewa Mayun.

Adapun, lokasi tempat berlangsung upacara Nangluk Merana, di Pura Ungan-Ungan di selatan Hard Rock Cafe Bali, persimpangan Bemo Corner, persimpangan depan Pura Desa, persimpangan Jalan Majapahit-Raya Kuta.

Selain itu, juga digelar didepan Banjar Pelasa dan Pura Padonan, persimpangan Jalan Blambangan-Kalianget, persimpangan Jalan Kalianget-Raya Kuta.

Acara ritual sakral itu, menndapat animo dan menjadi suguhan tersendiri bagi wisatawan asing dan domestik yang tengah berlibur di Pulau Seribu Pura itu. Banyak wisatawan yang mengabadikan dengan, kamera, handycam dan handphone yang dibawa. (gek)

Artikel Lainnya

Terkini