Sambut Pertemuan IMF, Pengembangan Bandara Ngurah Rai Dikebut

25 Februari 2018, 08:50 WIB
yanus
GM PT Angkasa Pura (AP) I Bandara I Gusti Ngurah Rai Yanus Suprayogi dalam perayaan 54 tahun PT AP I di Denpasar

DENPASAR – Menjelang pelaksanaan pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia, Oktober 2018 PT Angkasa Pura I terus mempercepat penyelesaian proyek pengembangan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, yang menelan anggaran Rp 2,2 triliun lebih.

Diketahui, perhelatan pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia akan digelar pada bulan Oktober 2018.

General Manajer PT Angkasa Pura I Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Yanus Suprayogi menargetkan pengembangan salah satu bandara tersibuk di Indonesia itu, diharapkan kelar sebelum bulan Oktober mendatang.

“Kami berharap bulan Agustus ini sudah bisa digunakan,” kata Yanus di sela-sela perayaan HUT ke-54 PT Angkasa Pura I di Sanur Denpasar, Sabtu (24/2/2018).

Terkait pengembangan bandara, menurut Yanus, dari anggaran triliunan rupiah itu bakal dipergunakan untuk penambahan fasilitas di antaranya pengembangan apron di sebelah barat dan timur bandara.

Saat ini pengerjaan proyek memasuki tahapan pembuatan apron atau tempat parkir pesawat di sisi timur bandara yang baru mencapai sekitar 1,76 persen.

Nantinya di apron timur itu ditargetkan akan ada penambahan untuk parkir empat pesawat berbadan lebar, setelah sejumlah fasilitas di kawasan timur bandara dibongkar di antaranya hangar maskapai Travira, kargo domestik dan fasilitas lainnya.

Sedangkan di sisi barat bandara, rencananya akan ada enam tambahan “parking stan” tempat parkir pesawat berbadan lebar yang saat ini sedang dalam persiapan kontrak pekerjaan.

Perluasan apron di bandara itu cukup penting dan mendesak untuk melayani arus penerbangan yang kian padat sehingga harus bisa lebih banyak menampung slot penerbangan.

Tingginya permintaan dari sekitar 70 maskapai nasional dan internasional yang melayani penerbangan di Bali. Sementara daya tampung terminal domestik dan internasional dan landasan pacu di salah satu bandara tersibuk di Tanah Air itu saat ini masih memadai.

Pilihan reklamasi di atas laut dilakukan karena keterbatasan lahan. Rencanannya, akan dilakukan pengurugan wilayah pesisir di sebelah barat bandara seluas sekitar 48 hektare. Nantinya perluasan lainnya di bandara akan digarap setelah target pengembangan bandara untuk IMF itu selesai.

Adanya pengembangan atau perluasan bandara itu mengakibatkan, keberadaan kantor-kantor yang terkena perluasan juga akan dipindah. “Terminal VIP I dan VIP II di sebelah barat atau di dekat Pertamina, akan dipindah ke timur bandara dekat terminal kargo internasional,” sambung Yanus.

Demikian juga, Markas Base Ops Pangkalan Udara Ngurah Rai juga akan direlokasi agar berada dekat dengan terminal VIP baru untuk memudahkan pengamanan yang menjadi domain TNI AU. (rhm)

Artikel Lainnya

Terkini