SATU Indonesia Awards 2025, Lima Anak Muda Ini Ciptakan Solusi Nyata untuk Persoalan Bangsa

Astra kembali memberikan panggung bagi para pembawa perubahan ini melalui ajang Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2025

5 Januari 2026, 10:38 WIB

Jakarta– Di balik tantangan besar yang dihadapi bangsa, selalu ada tangan-tangan muda yang bergerak dalam senyap, membawa solusi nyata untuk sesama. Astra kembali memberikan panggung bagi para pembawa perubahan ini melalui ajang Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2025.

Tahun ini, lima anak muda luar biasa terpilih karena keberanian mereka menjawab persoalan di bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, kewirausahaan, hingga teknologi.

“Program ini adalah momentum untuk menegaskan bahwa pemuda Indonesia memiliki keberanian dan konsistensi untuk menjadi fondasi masa depan yang berkelanjutan,” ujar Presiden Direktur Astra, Djony Bunarto Tjondro.

Sejak 2010, ajang ini telah mengapresiasi 792 pemuda yang karyanya kini terintegrasi di ribuan desa di 35 provinsi.

Lima Pejuang, Lima Solusi Nyata

Setiap pemenang membawa narasi perjuangan yang berbeda, namun dengan satu benang merah: kepedulian.

Alvin Henri (Kesehatan – Sumatera Utara): Berawal dari keresahan pribadi saat kuliah kedokteran tentang sulitnya akses materi medis di daerah, Alvin mendirikan Medsense.

Platform digital ini meruntuhkan dinding pembatas ilmu, memungkinkan dokter dan mahasiswa di pelosok nusantara mendapatkan edukasi medis berkualitas secara inklusif.

Tatag Adi Sasono (Kewirausahaan – Jawa Timur): Lewat Mitra Ternak Farm, Tatag mengubah wajah peternakan desa. Menggunakan teknologi “titip ternak”, ia menghubungkan peternak lokal dengan investor, termasuk pekerja migran. Hasilnya? Ekosistem ekonomi desa yang transparan dan mandiri.

Imelda Riris Damayanti (Pendidikan – DKI Jakarta): Melalui Never Okay Project, Imelda berjuang menciptakan ruang aman dari kekerasan seksual di dunia pendidikan dan kerja.

Ia tidak hanya bicara, tapi membangun sistem pelaporan yang aman dan kebijakan internal yang melindungi martabat manusia.

Hanzalah Rangkuti (Lingkungan – Sumatera Utara): Resah melihat sampah plastik mencemari keasrian Bukit Lawang, Hanzalah mendirikan Sumatera Trash Bank. Ia mengubah sampah menjadi tabungan ekonomi sirkular, menyulap ancaman lingkungan menjadi peluang penghasilan bagi masyarakat sekitar.

Oka Bayu Pratama (Teknologi – Jawa Timur): Di tangan Oka, kecerdasan buatan (AI) menjadi pelindung laut. Aplikasi SeeShark besutannya membantu nelayan mengidentifikasi spesies hiu secara instan agar hiu yang dilindungi tidak ikut terjaring, menjaga keseimbangan ekosistem laut kita.

Astra memandang kontribusi kelima anak muda ini bukan sekadar inovasi, melainkan wujud nyata dukungan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia.

Inisiatif mereka membuktikan bahwa perubahan besar seringkali dimulai dari langkah kecil yang dilakukan dengan konsistensi dan kolaborasi.

Kisah mereka adalah pengingat bagi kita semua: bahwa di mana ada masalah, di situ ada peluang bagi jiwa-jiwa muda untuk hadir dan memberikan arti.***

Berita Lainnya

Terkini