Seniman Bali Kembali Suarakan Tolak Reklamasi Teluk Benoa

13 Desember 2015, 08:55 WIB
Foto%2Bevent%2BBTRAE2014%2B%25283%2529
(dok.Kabarnusa)

Kabarnusa.com – Gerakan penolakan Reklamasi Teluk Benoa semakin kencang dari berbagai elemen dan lembaga, komunitas, seniman, mahasiswa, pelajar dan individu yang tergabung dalam bendera Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI) yang kali ini aksinya dalam bentuk “Sanga Bhuana Art Event Bali Tolak Reklamasi 2015” di Pantai Padang Galak, Denpasar, hari ini, Minggu (13/12/2015)

Dengan semangat gotong royong, mereka menggagas acara yang menampilkan deretan band, seni tradisional bondres, tarian tradisional dari berbagai sekehe teruna banjar di Bali dan teater.

   

Menariknya, di sela rangkaian kegiatan, disajikan patung kepalan tangan kiri setinggi 13 meter, diameter 5 meter sebagai symbol lingga yoni perlawanan rakyat Bali terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa seluas 700 Hektar investor.

“Patung ini akan diarak ratusan orang menuju bibir pantai, dibakar sebagai pertanda api perlawanan rakyat Bali terhadap rencana reklamasi Telok Benoa tak akan pernah padam dan kian kuat,” tutur pengagas acara Yoka Sara.

Tema Sanga Bhuana dipaparkan merupakan gambaran 9 (Sembilan) penjuru mata angin dalam filosofi Hindu, dan ini menjadi symbol perjuangan rakyat Bali melawan investor rakus dengan berbagai cara.

Kesembilan penjuru mata angin ini atau sikap perlawanan disatukan dalam event akbar ini.

“Di event ini lah rakyat Bali bersatu dengan berbagai bentuk media seni dari sejumlah komunitas kreatif di Bali, dan event ini adalah bentuk kecil dari besarnya penolakan rakyat Bali terhadap reklamasi Teluk Benoa,” tutur dia

Senada dengan itu, pemilik Antida Music Productions Agung Anom yang juga pengagas kegiatan, ingin terus menggelorakan semangat perlawanan penolakan reklamasi bagi warga Bali yang tanah kelahirannya dirampas investor bersekutu dengan penguasa.

“Seni adalah media kami untuk melawan ketidakadilan dan even ini salah satu cara kami untuk terus mengumandangkan suara penolakan. Di event ini setiap penampil atau siapun yang terlibat dalam event ini tidak ada satu pun yang dibayar,” tegasnya.

Divisi Kampanye ForBALI, Chandra menambahkan, dana acara ini datang dari masyarakat yang secara sukarela menyumbang tanpa ikatan dan bisa dipertanggungjawabkan.

Tidak hanya materi, beberapa masyarakat turut menyumbangkan tenaga, pikiran serta peralatan.

“Acara besar dengan prinsip gotong royong menjadi lebih ringan dan bisa dijangkau,” imbuhnya.

Seperti tahun sebelumnya, event ini terbuka dan pengunjung dikenakan donasi secara sukarela. Donasi terkumpul akan digunakan untuk membiayai kegiatan yang bisa dipertanggungjawabkan termasuk untuk aksi penolakan reklamasi Teluk Benoa. (gek)

Artikel Lainnya

Terkini