Spirit Gotong Royong 263 KK Krama Bongan Kauh Sukseskan Karya Suci Pura Mundak Sari, Bupati Sanjaya Beri Apresiasi

Bupati Sanjaya menekankan pentingnya memaknai upacara keagamaan tidak hanya sebatas kemegahan ritual semata, melainkan sebagai fondasi perbaikan diri dan penyucian jiwa.

13 Oktober 2026, 16:41 WIB

Tabanan –  Semangat gotong royong dan tradisi ngayah yang ditunjukkan oleh 263 Kartu Keluarga (KK) krama Banjar Adat Kerti Wimbha Bongan Kauh mendapat apresiasi tinggi dari Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M. Apresiasi tersebut disampaikannya saat menghadiri rangkaian upacara nyalarin dalam rangka Karya Ngenteg Linggih, Wraspati Kalpa, Mupuk Pedagingan lan Tawur Balik Sumpah di Pura Mundak Sari, Desa Bongan, Kecamatan Tabanan, Senin (12/10).

Dalam kunjungan tersebut, Bupati Sanjaya didampingi Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga, S.Sos., beserta rombongan yang terdiri dari anggota DPRD Provinsi Bali, Kelompok Ahli Pemkab Tabanan, anggota DPRD Kabupaten Tabanan, Sekda Tabanan, jajaran perangkat daerah, Camat Tabanan, Plt. Perbekel Bongan, hingga Jero Bendesa Adat Bongan Puseh dan para tokoh adat setempat.

Rangkaian kegiatan diisi dengan persembahyangan bersama serta penandatanganan prasasti sebagai simbol dukungan penuh pemerintah daerah terhadap pelestarian adat, agama, dan budaya Bali.

Di hadapan ratusan warga dan tokoh adat yang hadir, Bupati Sanjaya menekankan pentingnya memaknai upacara keagamaan tidak hanya sebatas kemegahan ritual semata, melainkan sebagai fondasi perbaikan diri dan penyucian jiwa.

“Kemuliaan sebuah karya suci tidak hanya tercermin dari kemegahan upacaranya, tetapi juga dari perubahan perilaku umatnya menuju kehidupan yang lebih baik,” ujar Bupati Sanjaya dalam sambutannya.

Bupati Sanjaya menambahkan pelaksanaan upacara ini harus dijadikan momentum berharga untuk memperkuat sradha bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, mempererat persaudaraan sesama warga, serta merawat keharmonisan lingkungan sesuai ajaran Tri Hita Karana.

Penandatanganan prasasti yang dilakukan juga menjadi tonggak sejarah atas ketulusan dan kebersamaan warga dalam menjaga warisan leluhur untuk diteladani generasi mendatang.

“Kami mengajak seluruh krama untuk senantiasa menjaga kesucian, kebersihan, dan kelestarian Pura Mundak Sari ini. Pura ini bukan sekadar tempat persembahyangan, tetapi juga pusat pelestarian nilai-nilai adat dan budaya Bali yang harus kita rawat bersama,” imbau Sanjaya.

Rangkaian upacara yang puncak karyanya telah berlangsung khidmat pada Minggu (11/10) lalu tersebut dipuput (dipimpin) oleh dua sulinggih, yakni Ida Peranda Buda dari Griya Jadi dan Ida Peranda Siwa dari Griya Kesiut Kawan.

Wujud nyata kepedulian Pemerintah Kabupaten Tabanan dalam menjaga keajegan adat juga dibuktikan melalui penyaluran dana hibah untuk kelancaran karya ini, yang mana pada tahun 2024 lalu Pemkab Tabanan juga telah mengalokasikan anggaran untuk pembangunan Gedong Simpen Pura Mundak Sari.

Menutup arahannya, Bupati Sanjaya berharap agar nilai-nilai kearifan lokal seperti menyama braya, gotong royong, dan ngayah terus ditumbuhkembangkan oleh masyarakat.

Menurutnya, sinergi antara pemerintah dan warga berbasis adat ini merupakan modal utama dalam mewujudkan visi pembangunan daerah, yakni Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul, dan Madani (AUM). ***

 

Berita Lainnya

Terkini