Yogyakarta – Keterbatasan ekonomi tak menghalangi langkah Ahmad Rif’an Khoirul Lisan menapaki jenjang pendidikan tinggi. Putra Pleret, Bantul, ini membuktikan semangat dan tekad mampu mengantarkannya dari bangku kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) hingga meraih kesempatan studi doktoral di Belanda.
Perjalanan Rif’an dimulai pada 2012 saat diterima di Fakultas Geografi UGM. Keputusan itu sempat ditentang keluarga karena kondisi ekonomi yang sulit.
Ayahnya seorang guru mengaji dan ibunya ibu rumah tangga berharap Rif’an segera bekerja setelah lulus SMA. Namun, ia memilih kuliah demi mengubah nasib keluarga.
“Bagi saya, kuliah bukan sekadar mimpi pribadi. Saya ingin membantu adik-adik mendapatkan kehidupan lebih baik,” ujarnya.
Awal kuliah penuh tantangan. Rif’an bertahan dengan beasiswa Bidikmisi dan kerja sampingan. Ia terbiasa hidup hemat, bahkan hanya berbekal Rp4.000 untuk makan sehari-hari.
Tidak memiliki komputer, ia mengerjakan tugas di warnet hingga akhirnya mendapat bantuan komputer bekas dari dosen. Meski sering merasa terasing, Rif’an terus berjuang.
Titik balik terjadi pada 2014 ketika ia diterima di program Rumah Kepemimpinan. Dari sana ia memperoleh tempat tinggal dan uang saku bulanan.
Kesempatan itu membuatnya bisa menabung dan mulai merancang masa depan. Perjuangan berlanjut saat ia mengikuti kursus bahasa Inggris di Pare, meski harus makan sekali sehari.
Dukungan teman-teman membantunya mengikuti tes TOEFL, yang kemudian membuka jalan menuju beasiswa LPDP.
Pada 2018, Rif’an melanjutkan studi magister di Arizona State University, Amerika Serikat. Hidup sederhana tetap dijalaninya, bahkan memanfaatkan food bank kampus untuk bertahan.
Pandemi COVID-19 membuatnya menyelesaikan studi dari Indonesia hingga lulus pada 2020. Sepulangnya, ia bekerja di Bappenas dan menjadi dosen di UPN Veteran Yogyakarta.
Tahun 2024, Rif’an kembali meraih beasiswa LPDP untuk studi doktoral di Wageningen University & Research, Belanda, dengan fokus pada pengelolaan sumber daya air dan pertanian.
“Saya percaya Gusti mboten sare, Tuhan tidak pernah tidur. Setiap usaha tidak akan sia-sia,” tuturnya.
Kini, Rif’an tengah menempuh pendidikan doktoral di salah satu kampus riset pertanian terkemuka Eropa, membawa harapan besar untuk berkontribusi bagi kemajuan pertanian Indonesia.
Kisahnya menjadi bukti keterbatasan bukanlah penghalang, melainkan pemantik semangat untuk meraih mimpi.***

