![]() |
Ketua TPID Bali Ketut Sudikerta (foto:kabarnusa) |
DENPASAR – Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Bali Ketut Sudikerta mengingatkan meskipun kinerja TPID cukup baik namun pergerakan inflasi Bali pada triwulan I 2017 menunjukkan tendensi peningkatan yang harus diwaspadai.
Diungkapkan Sudikerta, secara tahunan, pencapaian inflasi Bali pada triwulan I 2017 tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 3,59% (yoy). Angka tersebut juga masih lebih tinggi dibandingkan dengan pencapaian nasional yang tercatat sebesar 3,61% (yoy) pada triwulan I 2017.
“Secara kumulatif sampai dengan triwulan I 2017, pencapaian inflasi Bali yang tercatat sebesar 1,93% (ytd) juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata 3 tahun terakhir (2014-2016),” sebutnya di Gedung BI Bali Denpasar, Kamis (13/4/17).
Menurutnya, kewaspadaan dalam upaya pengendalian inflasi Provinsi Bali dalam tingkat yang rendah dan stabil masih harus ditingkatkan khususnya untuk tahun 2017 mengingat adanya sejumlah risiko pengendalian inflasi.
Risiko yang mesti diwaspadai antara lain, masih tingginya ketergantungan pasokan bahan pangan dari luar Bali untuk memenuhi kebutuhan Provinsi Bali. Kemudian, risiko anomali cuaca antara lain potensi terjadinya kemarau pada bulan Mei 2017.
“Kita juga waspadai risiko kenaikan harga minyak dunia yang menjadi acuan penetapan tariff beberapa komoditas kelompok administered prices,” sambung Sudikerta yang Wakil Gubernur Bali.
Tak kalah pentingnya, memantau peningkatan tekanan permintaan seiring dengan Hari Besar Keagamaan Puasa dan Lebaran yang diikuti dengan peak season kunjungan wisatawan seiring dengan liburan sekolah dan kenaikan kunjungan wisman sesuai dengan pola tahunannya dengan didorong oleh kebijakan pembebasan visa.
Karenanyam menghadapi kondisi tersebut, TPID Bali telah menyusun beberapa hal yang menjadi perhatian dalam rangka persiapan menjelang peak season Hari Besar Keagamaan. Langkah itu seperti koordinasi dan sinergisitas dari seluruh pihak terkait guna menjaga kestabilan harga. Kemudian mendorong perluasan urban farming dan Puspasari di Provinsi Bali.
TPID juga mendorong peningkatan jangkauan sumber produksi pertanian seperti beras, dan bahan makanan terhadap pusat pemasaran produk dan BULOG dalam berbagai kegiatan jual beli. Penyediaan sistem pergudangan dan cold storage untuk menjaga ketersediaan pasokan sepanjang tahun serta menghadapi panen raya dan masa paceklik.
Juga, Kebutuhan akan pemetaan surplus defisit di seluruh kabupaten-kota terkait berbagai komoditas dan dilakukan Kerjasama Perdagangan Antar Daerah guna menjaga kestabilan harga, Khususnya yang dilakukan terlebih dahulu antar kabupaten/kota se-Provinsi Bali, yaitu antara daerah yang surplus dengan daerah yang defisit. (rhm)