Tradisi Ramadan Jogokariyan Terus Berlanjut Meski Tanpa Sosok Ustadz Jazir

Kampung Ramadan untuk pertama digelar tanpa kehadiran almarhum Ustadz Muhammad Jazir, sosok penggagas manajemen masjid modern berbasis “saldo nol rupiah”.

19 Februari 2026, 12:27 WIB

YogyakartaRamadan 1447 H di Masjid Jogokariyan, Kemantren Mantrijeron, Yogyakarta, menjadi momen penuh makna.

Untuk pertama kalinya, Kampung Ramadan digelar tanpa kehadiran almarhum Ustadz Muhammad Jazir ASP, sosok penggagas sekaligus pelopor manajemen masjid modern berbasis “saldo nol rupiah”.

Meski kehilangan figur yang selama ini menjadi inspirasi, semangat kebersamaan tetap menyala.

Ketua Panitia, Muhammad Falah Akbar, menegaskan, sistem yang dirintis Ustadz Jazir telah mempersiapkan jamaah menghadapi masa ini.

Ramadan pertama tanpa beliau tentu terasa ada yang hilang. Namun, justru kepergian beliau menjadi motivasi bagi kami untuk melanjutkan tradisi kebaikan ini,” ujarnya.

Tradisi berbagi takjil tetap berjalan dengan skala lebih besar. Tahun ini, panitia menyiapkan 3.800 porsi takjil setiap hari, meningkat dari tahun sebelumnya.

Lebih dari 500 relawan terlibat, termasuk ibu-ibu PKK yang bergantian memasak menu berbeda setiap hari.

Panitia sengaja menggunakan piring makan, bukan kemasan sekali pakai, agar jamaah tetap bersama dalam salat Magrib sekaligus mengurangi sampah.

Memasuki usia ke-60 tahun, Masjid Jogokariyan mengusung tema Berkah Berjamaah.

Agenda Ramadan mencakup kegiatan anak-anak, kajian remaja dan umum, hingga kehadiran tokoh nasional seperti Mahfud MD dan Zainal Arifin Mochtar, serta grup musik Letto.

Semua ini menjadi bukti, Jogokariyan bukan hanya masjid, melainkan pusat kebersamaan yang terus hidup.

Tradisi Ramadan Jogokariyan kini berdiri sebagai warisan nyata Ustadz Jazir: sebuah teladan, kekuatan jamaah mampu menjaga keberlangsungan kebaikan, bahkan ketika sosok inspiratif telah tiada. ***

Berita Lainnya

Terkini