Wamen Komdigi: Ekonomi Digital RI Potensial USD 130 Miliar, Primakara University Dorong Kajian Regulasi Kripto dan AI

Wamen Komdigi Nezar Patria, menegaskan Indonesia memiliki potensi ekonomi digital besar, diperkirakan mencapai USD 130 miliar pada tahun 2025.

1 November 2025, 10:49 WIB

Denpasar– Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi), Nezar Patria, menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi ekonomi digital yang sangat besar, diperkirakan mencapai USD 130 miliar pada tahun 2025.

Hal tersebut disampaikan Wamen Nezar saat menghadiri Focus Group Discussion (FGD) tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif dan Digital di Primakara University, Bali, pada Jumat, 31 Oktober 2025.

Fokus Utama Wamen Nezar: Tantangan Adopsi AI dan Talenta Digital

Dalam paparannya, Wamen Nezar Patria menyoroti peran sentral ekonomi kreatif, yang diproyeksikan berkontribusi Rp 1.500 triliun terhadap PDB nasional dan menyerap lebih dari 24 juta tenaga kerja.

Namun, ia menekankan, terdapat tantangan besar dalam mencapai potensi tersebut, terutama:

Rendahnya Adopsi Kecerdasan Buatan (AI): Tingkat adopsi AI di kalangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ekonomi kreatif masih rendah akibat faktor biaya tinggi, kompleksitas teknis, dan isu ketidakpastian Return on Investment (ROI).

Isu Hukum AI: Pemerintah tengah serius menangani isu hak cipta dan kepemilikan data atas karya yang dihasilkan oleh AI, dengan menyiapkan Peta Jalan AI Nasional dan Peraturan Presiden tentang Etika AI.

Pengembangan Talenta: Pentingnya kolaborasi multipihak dan penguatan program seperti AI Talent Factory serta Digital Talent Scholarship untuk memastikan ketersediaan SDM unggul di bidang teknologi.

Peran Primakara University: Transformasi Ekonomi dan Kajian Kripto

Rektor Primakara University, Dr. I Made Artana, S.Kom., MM., menyambut baik kehadiran Wamen Komdigi, yang dinilai menunjukkan perhatian pemerintah terhadap transformasi ekonomi Bali agar tidak hanya bergantung pada sektor pariwisata.

Rektor Artana menekankan meskipun AI mampu mendorong ekonomi kreatif, perkembangan tersebut tidak boleh mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan, sosial, dan seni budaya Bali.

Lebih lanjut, Primakara University menyoroti dan mengambil langkah konkret terkait isu-isu digital yang mendesak di Bali:

Kajian Regulasi Crypto City: Rektor Artana mengungkapkan rencana kerja sama Primakara University dengan Komdigi untuk melakukan kajian mendalam mengenai isu Crypto City di Bali.

Hal ini penting mengingat penggunaan uang kripto secara riil sudah meluas di kalangan komunitas internasional, meskipun status legalitasnya “belum legal” di Indonesia.

Pemanfaatan Digital Nomad: Primakara University juga menyarankan pemanfaatan kehadiran Digital Nomad dan startup people asing yang berkegiatan di Bali untuk membantu transformasi ekonomi lokal.

Sinergi Ekosistem: Artana menegaskan perlunya sinkronisasi dan kolaborasi erat antara pemerintah (regulasi), Perguruan Tinggi (riset, inovasi, dan talenta), serta lembaga pendanaan untuk memperkuat “akar” ekosistem ekonomi digital di Bali secara menyeluruh.

Diskusi di Primakara University ini sejalan dengan peresmian Sekretariat Bersama Digital Bali oleh Pemerintah Provinsi Bali, yang bertujuan menjadi pusat koordinasi untuk mempercepat implementasi program ekonomi kreatif dan digital di wilayah tersebut.***

Berita Lainnya

Terkini