10 Tahun Didera Lumpuh, Wayan Rujito Butuh Uluran Tangan

3 April 2016, 08:09 WIB

Rujita%2B 1

Kabarnusa.com – Hidup Wayan Rujita (77) warga di Lingkungan Tinyeb, Kelurahan Banjar Tengah, Kecamatan Negara, Jembrana Bali dalam derita selain lumpuh juga hanya bisa mengdalkan belas kasihan.

Tinggal di rumah yang tidak layak huni, bahkan tidak ubahnya seperti kandang sapi, Rujita hanya bisa terbaring. Kakinya membengkak d iatas dipan beralas kasur lusuh.

Untuk bisa duduk harus dibantu orang lain,  karena tidak bisa duduk sendirian.

Di dalam kamar tidur Pak Roji, sapaannya, dipenuhi debu dan sarang laba-laba. Bahkan barang-barang rongsokan juga diletakan begitu saja dalam kamar.

Sebenarnya, anak perempuan dan menentunya yang merawatnya mau membersihkan namun dilarang Pak Roji, karena merasa barang-barang itu berharga dan bisa dijual.

Tempat tinggalnya juah dari sehat. Apalagi. ada kasur yang hancur dan berdebu dan tersimpan di kamarnya.

Sampai akhirnya, kondisi itu membuat relawan Komunitas Relawan Jembrana (KRJ) spontanitas membelikan Rujita kasur dan bantal juga seprai.

Setelah meminta izin Pak Roji, kamar langsung dibersihkan sehingga lebih nyaman ditinggali.

Bahkan, secara gotong royong dengan pihak keluarga mereka menggotong Rujita dan memandikannya sehingga lebih bersih.

Selama ini pria sepuh ini, dirawat anak perempuannya Ketut Sri Astuti dan menantunya Wayan Sugeng Sugiarta.

Sejak tahun 2006, dia mengalami kelumpuhan. Saat sehat, sempat menjadi penjaga sekolah dekat rumahnya.

Namun, pekerjaan itu terpaksa ditinggalkan lantaran dia lumpuh.

“Karena bapak sakit lumpuh, saya harus merawat bapak. Saya terpaksa ngak jadi ke Sumatra bersama suami,” ujar Sri ditemui di rumahnya, Sabtu (2/4/2016).

Suami Sri seorang pemulung sehingga rumahnya penuh barang rongsokan. Dari pekerjaan suaminya itu, mereka menghidupi keluarga dan merawat ayahnya.

Dengan segala keterbatasan, sering anaknya yang masih sekolah tidur di emperan rumah dengan ditutupi triplek lusuh.

Sebenarnya Sri memiliki saudara lelaki namun sudah menikah dan memiliki kehidupan sendiri.

“Sejak ibu meninggal, bapak sakit-sakitan, kami selalu khawatir dengan keadaan bapak,” ucapnya terbata. (dar)

Artikel Lainnya

Terkini