5 Hal yang Wajib Kamu Tahu Soal Paket Wisata Baru Penglipuran, Nomor 4 Bikin Bangga!

Per 1 Januari 2026, desa adat Penglipuran Bangli yang menjadi ikon kebersihan dunia ini resmi menerapkan Sistem Paket

2 Januari 2026, 17:46 WIB

Penglipuran– Desa Wisata Penglipuran secara resmi memulai transformasi besar dalam peta ekonomi pariwisata nasional. Per 1 Januari 2026, desa adat yang menjadi ikon kebersihan dunia ini resmi menerapkan Sistem Paket Berkunjung.

Langkah strategis ini menandai pergeseran model bisnis dari pariwisata massal (mass tourism) menuju pariwisata regeneratif yang mengutamakan kualitas dan pemulihan ekosistem.

Bukan sekadar perubahan struktur harga tiket, sistem paket ini adalah instrumen ekonomi baru untuk memastikan keseimbangan antara pertumbuhan pendapatan desa dan kelestarian aset budaya serta alam.

Penerapan sistem ini merupakan upaya Penglipuran untuk “naik kelas”. Desa tidak lagi hanya menjadi objek foto yang pasif, melainkan pengelola pengalaman yang bertanggung jawab.

Fokusnya bukan pada eksklusivitas harga, melainkan pada keadilan dampak—memastikan ekonomi pariwisata bekerja untuk alam dan manusia, bukan sebaliknya.

Kelian Desa Adat Penglipuran, I Wayan Budiarta, menegaskan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan wisatawan kini memiliki nilai investasi bagi masa depan desa.

“Kami ingin melangkah lebih jauh: setiap kunjungan bukan hanya memberi manfaat ekonomi, tetapi juga ikut merawat hutan bambu, menghidupkan tradisi, dan menguatkan masyarakat adat kami. Wisatawan harus menjadi bagian yang menguatkan desa, bukan sekadar melintas,” ujar I Wayan Budiarta.

Manajemen Desa Penglipuran berkomitmen mengelola pendapatan paket berkunjung ini secara transparan untuk lima prioritas utama:

Prioritas,  Fokus Utama

Pertama, Kualitas Layanan  Peningkatan kenyamanan, keamanan, dan makna pengalaman wisatawan.

Kedua, Revitalisasi Budaya, Dukungan dana untuk kegiatan seni, upacara adat, dan edukasi nilai bagi generasi muda.

Ketiga, Kelestarian Lingkungan, Pengelolaan sampah modern dan penghijauan hutan bambu serta ruang publik.

Keempat, Pemberdayaan Masyarakat, Penguatan kapasitas UMKM lokal dan tata kelola wisata yang inklusif.

Kelima, Restorasi Ekologi  Program pemulihan sosial-ekologi demi ketahanan desa jangka panjang.

Model ekonomi baru ini diharapkan menciptakan ikatan yang lebih dalam. Wisatawan diajak untuk memahami narasi di balik keindahan tata ruang desa, sementara masyarakat lokal diposisikan sebagai pelaku utama, bukan sekadar penonton.

Pihaknya ingin wisatawan merasa mendapat pengalaman utuh: memahami cerita desa sekaligus tahu bahwa sebagian dari biaya yang mereka bayar kembali untuk merawat rumah kami.

“Dengan begitu, hubungan tamu dan tuan rumah menjadi saling menguatkan,” tambah Budiarta.

Melalui inisiatif ini, Penglipuran mempertegas posisinya sebagai pionir desa wisata di Indonesia yang mampu menyelaraskan profitabilitas dengan prinsip sustainability dan regenerasi.

Ini adalah undangan bagi dunia untuk melihat bagaimana pariwisata bisa menjadi obat bagi bumi, sekaligus mesin kesejahteraan masyarakat lokal.***

Berita Lainnya

Terkini