Bali Tolak Tuan Rumah Pemeran Industri Rokok Dunia

25 Januari 2014, 09:23 WIB
Titik+Suhariyati+(kanan)
Aktivis jaringan pengendali tembakau Bali saat diskusi terkait Kawasan Tanpa Rokok (Foto:Kabarnusa)

Kabarnusa.com, Denpasar – Berbagai elemen masyarakat mendesak pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Bali agar menolak rencana pameran perdagangan internasional untuk produk tembakau dan aksesoris merokok Inter Tabac 2014 yang akan digelar di Bali.

Bahkan, masyarakat perwakilan Kamboja, India, Myanmar, Nepal, Timor Leste, Amerika Serikat dan Vietnam juga menyuarakan agar Indonesia dan Pemerintah Provinsi Bali melarang perusahaan yang berbasis di Jerman, Inter – tabac yang ingin mempromosikan perdagangan tembakau di Indonesia dan Asia.

Kabarnya, lewat Inter – tabac ASIA akan berlangsung pada 27 – 28 Februari  2014 di Nusa Dua Convention Center (BNDCC) Bali.

Titik Suhariyati dari Jaringan Pengendalian Tembakau mengaku sangat malu jika kegiatan itu berhasil digelar di Bali.

“Jika Inter – tabac tetap digelar di Bali di mana masyarakat internasional banyak menyuarakan penolakan, maka dunia akan mentertawakan Indonesia,” tegas aktivis Jaringan Pengendalian Tembakau Titik Suhariyati dalam keterangan resminya, Jumat (24/1/2014).

Apalagi, Bali memiliki Perda Nomor 10 Tahun 2011 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) atau aturan anti rokok sehingga penyelenggaraan pertemuan industri rokok asal perusahaan Jerman itu tentunya tidak sejalan dengan program pemerintah.

“Kami mendesak agar pusat dan Pemprov Bali menolak dan melarang pertemuan digelar di Bali,” tegas Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Bali itu.

Hal sama disampaikan akademisi Universitas Udayana Denpasar dr. Putu Ayu Swandewi Astuti dan Made Kerta Duana di mana organisasi kesehatan dunia (WHO) setiap tahunnya sudah merilis korban berjatuhan akibat tembakau.

Melansir data WHO kata Ayu, tembakau atau rokok menyebabkan enam juta kematian di seluruh dunia di mana sebagian besar mereka berasal dari negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Kata Ayu, bahkan di Indonesia sekira 200 ribu orang tiap tahunnya meninggal akibat tembakau. Karanenya dia meyakini jika ajang Inter-tabac Asia menargetkan masyarakat Indonesia sebagai pelanggan mereka.

Di pihak lain, Made Kerta Duana menambahkan, banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, mengalami peningkatan besar pada penyakit tidak menular.

Penyakit yang banyak dialami seperti kanker, penyakit jantung dan pernapasan telah dihubungkan dengan penggunaan tembakau.

Dia juga melansir data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan 67,4 % pria dan 4,5 % wanita Indonesia saat ini menggunakan tembakau.

Data itu menempatkan Indonesia pada populasi dengan tingkat merokok tertinggi di dunia,” imbuhnya.

Jaringan Pengendalian Tembakau dari berbagai negara menegaskan bahwa dilaranganya ‘Inter – tabac’ yang berbasis di Jerman.

Tujuannya jelas, akan mempromosikan produk tembakau di Indonesia. Jadi, gerakan penolakan itu dilakukan demi melindungi dan menjaga kesehatan, kesejahteraan dan kehidupan penduuduk di Tanah Air. (gek)

Artikel Lainnya

Terkini