BI Bali: Pandemi Covid-19 Mengajarkan untuk Mencari Diversifikasi Pertumbuhan Ekonomi

22 Desember 2020, 09:30 WIB

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho saat
acara Obrolan Santai BI Bareng Media/ist

Denpasar – Pandemi Covid-19 telah mengajarkan kepada Bali untuk
perlunya melakukan diversifikasi pertumbuhan ekonomi sehingga tidak hanya
tergantung kepada sektor pariwisata.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho menyapaikan itu
pada acara Obrolan Santai BI Bareng Media, Senin (21/12/2020). Trisno
menambahkan dalam jangka pendek, pemulihan perekonomian Bali ke depan berarti
pemulihan sektor pariwisata.

Ini sangat tergantung dari kedatangan wisatawan ke Bali, yang dipengaruhi oleh
beberapa faktor, antara lain ketersediaan vaksin Covid-19, level of confidence
to travel, kebijakan perlintasan orang baik domestik maupun internasional
serta pemulihan ekonomi global.

“Dalam jangka panjang, terdapat beberapa langkah kebijakan yang dapat
dilakukan. Pertama, mendorong sumber pertumbuhan ekonomi baru,” ungkap mantan
Kepala Perwakilan BI DKI Jakarta ini.

Kata Trisno, Covid-19 mengajarkan bahwa Bali perlu melakukan diversifikasi
pertumbuhan ekonomi sehingga tidak hanya tergantung kepada sektor pariwisata.

Kedua, mendorong quality tourism. Perlunya akselerasi pengembangan pariwisata
Bali untuk health tourism, cruise tourism, serta MICE. Ketiga, mendorong
pembangunan/ pengembangan infrastruktur baik infrastruktur dasar maupun
infrastruktur pariwisata.

Bank Indonesia mempertahankan suku bunga kebijakan 7-Day Reverse Repo Rate
(BI7DRR) sebesar 3,75%. Suku bunga Depocit Facility dan suku bunga Lending
Facility pun dipertahankan, masing-masing pada angka 3,00% dan 4,50%.

Sejak awal tahun, BI telah lima kali menurunkan suku bunga, yaitu pada
Februari, Maret, Juni, Juli, dan Nopember 2020, dengan total penurunan suku
bunga sebesar 125 bps”, ujar Trisno.

Pada bagian lain, Trismo menguraikan saat mengakhiri tahun 2020, perekonomian
Bali diyakini terus membaik. Hal ini didukung dengan meningkatnya konsumsi
masyarakat yang tercermin dari peningkatan indeks penjualan eceran dan indeks
keyakinan konsumen di akhir triwulan IV.

Kondisi ini sekaligus mencerminkan adanya sikap optimisme masyarakat terhadap
perekonomian Bali.

“Kita optimis di tahun 2021, pertumbuhan akan lebih baik. Pertumbuhan ekonomi
Bali ditarget 4,5-5,5 persen,” ujarnya. Pada tahun 2020 ini, pertumbuhan
ekonomi Bali secara tahunan menurun mulai dari -1,17% di triwulan I, -11% di
triwulan II dan -12,2% di triwulan III tahun 2020.

Menurunnya kedatangan wisatawan ke Bali berdampak langsung pada kinerja sektor
pariwisata yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Bali. Dampak
Covid-19, menyebabkan pertumbuhan ekonomi Bali menjadi terendah di Indonesia.

Pada 2020, pertumbuhan sektor pariwisata terkendala dengan adanya Covid-19.
Oleh sebab itu, penanganan Covid-19 telah menjadi prioritas di tahun 2020 dan
akan tetap menjadi prioritas di tahun 2021.

Terkait inflasi, Trisno menyampaikan bahwa pada bulan November 2020, Bali
mengalami inflasi sebesar 0,81% (yoy), jauh lebih rendah dibanding inflasi
nasional sebesar 1,59% (yoy).

Rendahnya tekanan inflasi ini merupakan dampak dari COVID-19 yang menyebabkan
permintaan melemah. Tekanan inflasi yang rendah juga tidak terlepas dari
penurunan aktivitas ekonomi sebagai konsekuensi dari pembatasan sosial.

Kinerja kredit juga melambat hingga hanya tumbuh 1,40% secara tahunan.
Penurunan terbesar terjadi pada jenis kredit modal kerja berkaitan dengan
terhentinya berbagai lapangan usaha, utamanya LU akmamin.

Meskipun demikian, Non Performing Loan masih dalam ambang batas terkendali
pada level 2,64%, antara lain sebagai hasil dari program restrukturisasi
kredit, yang merupakan salah satu program PEN pemerintah untuk menjaga
kesehatan perbankan serta membantu pelaku usaha yang terdampak oleh pembatasan
kegiatan untuk mengurangi penyebaran covid-19.

Keputusan ini konsisten dengan prakiraan inflasi yang tetap rendah dan
stabilitas eksternal yang terjaga, serta upaya untuk mendukung pemulihan
ekonomi. Bank Indonesia memperkuat sinergi kebijakan dan mendukung berbagai
kebijakan lanjutan untuk membangun optimism pemulihan ekonomi nasional.

Beberapa peran Bank Indonesia dalam mendukung implementasi program pemulihan
ekonomi nasional, antara lain melakukan pembelian SBN di pasar perdana.

Sampai dengan 15 Desember 2020, Bank Indonesia telah membeli sebesar Rp75,86
triliun, termasuk dengan skema lelang utama, Greenshoe Option (GSO) dan
Private Placement.

Selain itu, BI juga telah merealisasikan pendanaan dan pembagian beban dengan
Pemerintah untuk pendanaan Public Goods dalam APBN melalui mekanisme pembelian
SBN secara langsung sejumlah Rp397,56 triliun serta pembagian beban untuk
pendanaan Non Public Goods – UMKM sebesar Rp114,81 triliun dan Non Public
Goods-Korporasi sebesar Rp62,22 triliun.

Disamping keputusan terkait suku bunga, Bank Indonesia juga mengambil beberapa
langkah kebijakan. Pertama, melanjutkan kebijakan stabilisasi nilai tukar
Rupiah agar sejalan dengan fundamental dan mekanisme pasar.

Kedua, memperkuat strategi operasi moneter untuk mendukung stance kebijakan
moneter akomodatif. Ketiga, memperkuat kebijkaan makroprudensial akomodatif
untuk mendorong peningkatan kredit/pembiayaan kepada sektor-sektor prioritas.

Keempat, mendorong penurunan suku bunga kredit melalui pengawasam dam
komunikasi public atas transparansi suku bunga perbankan dengan koordinasi
bersama OJK.

Kelima, memperkuat pendalaman pasar uang melalui perluasan underlying DNDF.
Keenam, memperkuat koordinasi pengawasan perbankan secara terpadu antara Bank
Indonesia, OJK dan LPS.

Dan terakhir, mempercepat transformasi digital dan sinergi untuk memperkuat
momentum pemulihan ekonomi melalui penguatan kebijakan sistem pembayaran dan
percepatan implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025.

Bank Indonesia memperpanjang kebijakan Merchant Discount Rate QRIS sebesar 0%
untuk merchant usaha mikro sampai dengan 31 Maret 2021.

Selain itu, Bank Indonesia juga memperkuat dan memperluas implemenatsi
elektronifikasi dan digitalisasi, baik di pusat maupun di daerah, bersinergi
dengan pemerintah pusat dan daerah serta otoritas terkait melalui pembentukan
Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah.

Bank Indonesia juga terus mendorong inovasi dan pemanfaatan teknologi serta
kolaborasi perbankan dengan fintech melalui percepatan implementasi Sandbox
2.0, antara lain meliputi regulatory sandbox, industrial tesr, innovation lab
dan startup. (rhm)

Artikel Lainnya

Terkini