Bangli — Desa Wisata Penglipuran yang terletak di Kabupaten Bangli, Bali, kembali meraih pengakuan internasional. Desa adat yang tersohor akan kebersihan, keunikan arsitektur, dan kelestarian budayanya ini resmi masuk dalam daftar The 53 Most Beautiful Small Towns in the World versi majalah perjalanan ternama, Condé Nast Traveller.
Capaian ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Desa Adat Penglipuran sekaligus memperkuat posisi Bali sebagai destinasi pariwisata berbasis budaya yang berkelas dunia.
Daya tarik utama Desa Penglipuran tidak hanya bersumber dari panorama alamnya yang asri, tetapi juga dari pola hidup masyarakat adat yang secara konsisten memelihara keharmonisan antara manusia, budaya, dan lingkungan.
Suasana desa ditandai oleh jalan utama yang tertata rapi, deretan rumah tradisional Bali berarsitektur seragam, serta lingkungan yang bersih dan bebas dari sampah.
Secara tatanan ruang, Penglipuran menerapkan filosofi Tri Mandala yang membagi wilayah desa menjadi tiga zona: Utama Mandala (kawasan suci/tempat ibadah), Madya Mandala (pemukiman warga), dan Nista Mandala (zona pemakaman dan aktivitas luar).
Selain pemukiman, sekitar 40 persen dari total wilayah desa merupakan kawasan hutan bambu yang dilindungi, yang berperan penting dalam menjaga tata air dan kelestarian ekosistem lokal.
Menanggapi apresiasi internasional tersebut, Kepala Badan Usaha Desa Adat (BUPDA) Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, menyampaikan rasa syukur sekaligus menegaskan pengakuan ini merupakan hasil kerja keras warga dalam merawat tradisi.
Masuknya Desa Penglipuran dalam daftar desa terindah di dunia versi Condé Nast Traveller merupakan sebuah kehormatan.
“Namun yang lebih penting, pengakuan ini adalah penghargaan untuk masyarakat Desa Adat Penglipuran yang selama ratusan tahun menjaga warisan leluhur, mempertahankan arsitektur tradisional, melestarikan hutan bambu, serta menjadikan kebersihan dan keharmonisan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujar I Wayan Sumiarsa.
Ia menekankan keindahan Penglipuran tumbuh secara alami dari kearifan lokal Tri Hita Karana—filosofi hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam sekitar. Menurutnya, pariwisata hadir sebagai dampak positif dari kelestarian budaya tersebut, sehingga pengembangan pariwisata tidak boleh merusak jati diri desa.
Pengakuan skala global ini dimanfaatkan oleh pengelola Desa Wisata Penglipuran untuk menguatkan visi menuju Pariwisata Inklusif, Berkelanjutan, dan Regeneratif (Regenerative Tourism).
Berbeda dengan konsep pariwisata konvensional, pariwisata regeneratif tidak lagi mengukur keberhasilan semata-mata dari jumlah kunjungan atau pendapatan finansial, melainkan dari sejauh mana aktivitas pariwisata mampu memulihkan dan memajukan lingkungan serta masyarakat setempat.
Langkah-langkah konkret yang tengah dijalankan mencakup peremajaan hutan bambu, pengelolaan sampah terpadu, pemeliharaan fisik rumah adat, peningkatan mutu layanan, hingga pemandirian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.
“Kami memiliki visi bahwa pariwisata harus mampu menjadikan Desa Penglipuran lebih baik dari sebelumnya. Lingkungan harus semakin terawat, budaya semakin kuat, masyarakat semakin sejahtera, dan wisatawan mendapatkan pengalaman yang berkualitas. Inilah makna pariwisata regeneratif yang ingin kami wujudkan,” tegas Sumiarsa.
Guna memperkaya pengalaman pengunjung, pengelola mengembangkan ragam paket wisata edukatif dan autentik. Wisatawan kini tidak hanya diajak berjalan-jalan dan berfoto di area jalan utama, tetapi juga diundang untuk berinteraksi langsung dengan warga. Beberapa aktivitas yang ditawarkan antara lain:
Seni & Pertunjukan: Menyaksikan pertunjukan seni tradisional Barong Macan.
Kuliner & Herbal: Belajar meracik minuman herbal khas Bali (loloh cemcem) dan mencicipi hidangan tradisional Penglipuran.
Kriya: Belajar melukis di media bambu dan berinteraksi dengan para pengrajin lokal.
Pengelola mengimbau setiap wisatawan untuk turut serta menjaga kebersihan, menghormati norma hukum adat (awig-awig), serta mendukung ekonomi warga dengan membeli produk kerajinan UMKM setempat.
“Kami ingin wisatawan pulang membawa lebih dari sekadar foto dan kenangan indah. Kami berharap mereka membawa pengalaman tentang bagaimana masyarakat hidup harmonis dengan alam dan budaya,” ungkapnya.
Di akhir keterangannya, I Wayan Sumiarsa menyampaikan undangan terbuka kepada wisatawan mancanegara maupun domestik untuk datang dan merasakan langsung kehangatan serta keunikan kehidupan desa adat Bali. ***

