Pameran Tunggal Handy Saputra di Griya Santrian: Menyelami Sisi Humanisme dan Mitos Bali Melalui Lukisan Spontan

Di tengah kesibukan Handy Saputra sebagai pengusaha logistik yang telah berjalan selama kurang lebih 39 tahun, melukis menjadi sarana utama baginya untuk melepas penat dan menghindari stres.

7 November 2026, 05:00 WIB

Denpasar-Seniman sekaligus pengusaha logistik, Handy Saputra, menggelar pameran tunggalnya di Art Gallery Griya Santrian, Sanur, pada Jumat, 6 November 2026.

Pameran ini menampilkan berbagai karya lukisan spontan dan cetak (print on paper) yang menjadi wujud ekspresi serta proses panjang perjalanan seninya.

Sering kali dipertanyakan mengenai identitasnya sebagai pengusaha atau seniman, Handy menanggapinya dengan senyuman. Ia menjelaskan bahwa dirinya merupakan seorang pengusaha yang terlibat secara intens dalam dunia berkesenian.

Pengusaha yang seniman Handy Saputra (kanan) bersama kurator Muhammad saat pameran tunggal di Santrian Art Gallery Sanur Denpasar Jumat 6 November 2026/dok.kabarnusa

“Saya kadang-kadang senyum aja. Tapi sebagai ini profesinya, tetap saya seorang pengusaha yang memang terlibat secara intens dalam berkesenian ya,” ujar Handy Saputra.

Ketertarikannya pada dunia seni sudah bermula sejak ia duduk di bangku SMA. Ia banyak belajar dari almarhum sahabatnya, seniman Frans Nadira, serta rutin berdiskusi dan mengamati proses berkarya dari kanvas kosong hingga menjadi sebuah lukisan utuh. Seiring berjalannya waktu, dukungan dari rekan-rekan sesama seniman membuatnya semakin mantap untuk memamerkan karya-karyanya ke publik.  

Mengenai gaya dan tema lukisannya, Handy mempersilakan para penikmat seni untuk menafsirkan sendiri karyanya sesuai persepsi masing-masing.

Kurator Muhammad bersama Made Dolar Astawa saat konferensi pers pameran tunggal karya Handy Saputra di Griya Art Santrian/dok.kabarnusa

Pengusaha ini sengaja melepaskan diri dari batasan atau pakem-pakem tertentu, serta menghindari pengkotak-kotakan aliran seni seperti Cobra, Art Brut, Outsider, ataupun Franchise.  

Sebagian besar karya yang dipamerkan merupakan hasil ciptaan terbarunya pada tahun 2026. Di tengah kesibukannya sebagai pengusaha logistik yang telah berjalan selama kurang lebih 39 tahun, melukis menjadi sarana utama baginya untuk melepas penat dan menghindari stres.

Selain melukis menggunakan akrilik di atas kanvas, Handy juga aktif mengeksplorasi teknik printmaking di Devto Studio, Bali.  

Bagi Handy, proses berkesenian memiliki banyak manfaat, tidak hanya sebagai bentuk terapi tetapi juga untuk menjaga kepekaan sisi kemanusiaan (humaniora) di tengah kesibukan dunia bisnis.

Pameran tunggal seniman Handy Saputra kembali menarik perhatian para pengamat dan penikmat seni rupa. Dalam pameran yang bertajuk The Dialogue Between The Moon and Its Halo atau “Cengkerama Sang Bulan dengan Lingkaran Cahayanya”, kurator pameran Muhammad Bundhowi menyampaikan pandangannya mendalam mengenai karya-karya yang ditampilkan.

Menurut Bundhowi, lukisan-lukisan karya Handy sering kali memuat sosok-sosok mistis atau mitik yang khas di dalam cerita maupun tradisi lukisan Bali.

Ia menilai karya-karya tersebut dapat dinikmati seolah-olah penonton sedang menyaksikannya di dalam dunia nyata.  

Lebih lanjut, Bundhowi menjelaskan bahwa untuk memahami karya Handy secara utuh, penikmat seni tidak boleh hanya melihat apa yang tampak secara fisik atau sekadar tersurat dipermukaan.

“Lukisan Pak Andi harus dilihat bukan hanya apa yang tampak di mata, apa yang tersurat, tapi tidak harus melihatnya apa yang tersirat. Karena beberapa lukisan Pak Andi ternyata merupakan sebuah refleksi dari ciri khas sendiri,” ujar Muhammad Bundhowi.

“Penting bahwa bagi seorang pengusaha itu punya jiwa berkesenian, entah itu seni tari, seni musik, karena itu sebagai alat bantu untuk mengasah sisi kemanusiaan kita,” tandasnya.

Melalui pameran tunggal ini, Handy berharap karyanya dapat dinikmati secara bebas oleh masyarakat luas serta memberikan warna tersendiri dalam kancah seni rupa kontemporer di Bali.Semoga

Bundhowi menambahkan banyak lukisan Handy yang menyimpan nilai-nilai humanisme serta merefleksikan tema-tema yang dekat dengan perilaku kemanusiaan (humancentric). Ragam karya tersebut mencakup nuansa yang puitis hingga filosofikal.  

Untuk mengapresiasi karya-karya tersebut secara komprehensif, Bundhowi menyarankan sebuah pendekatan khusus bagi para penikmat seni:

“Saya juga ingin memberikan sebuah metode untuk melihat lukisan Pak Andi dengan cara kita melepaskan diri dan terbang ke atas, dilihat, melihat ke bawah dengan cahaya, kemudian dengan sinar skrinning-nya untuk melihat peristiwa-peristiwa yang ada di bumi yang dilukis oleh Pak Andi,” jelas Bundhowi.

Melalui metode tersebut, ia berharap publik dapat menyelami karya-karya Handy dengan hati dan pemahaman yang lebih luas.  

Dalam kesempatan yang sama, Muhammad Bundhowi juga menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada Handy Saputra atas terselenggaranya pameran ketiga ini. Ia menilai pameran kali ini menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan dari sang seniman.

“Saya lihat amat sangat menyertakan loncatan—bukan hanya loncatan kuantitatif, tetapi juga loncatan kualitatif,” tutupnya. ***

Berita Lainnya

Terkini