Dramatari Kebo Iwo Jadi Tari Maskot Nusa Dua Fista 2015

11 Oktober 2015, 09:33 WIB

EDI 0442

Kabarnusa.com – Pementasan dramatari Keboiwa dalam ajang Nusa Dua Fiesta (NDF) menjadi daya tarik tersendiri terlebih dikemas dengan penataan koregrafi yang inovatif dan kreatif dan sarat pesan moral.

Penampilan Oratorium Keboiwa hasil produksi Sanggar Sasiwimba Denpasar yang dipentaskan pada pembukaan NDF ke -18 di Peninsula, Nusa Dua, Jumat (9/10/2015).

Dramatari didukung 25 orang penari dan 30 penabuh. Tampil sebagai penata tari IBG. Surya Peradantha, S.Sn., M.Sn, penata iringan I Wayan Darya, S.Sn. dan I Ketut Budiyana, S.Sn. serta dalang dipercayakan kepada Sang Ketut Pesan Sandiyasa.

Penonton memadati tempat duduk menyaksikan pementasa  tari baik dari kalangan wisatawan asing dan domestik.

Penyajian dramatari Keboiwa yang menjadi Tari Maskot Nusa Dua itu tergolong apik, karena mengutamakan unsur dramatik. Dalam garapan itu masih kuat dengan seni tradisi bahkan klasiknya.

Lihat saja, pakemnya tari seperti agem, tandang dan tangkep masih tetap dipertahankan.
Misalnya, dalam tari prajurit yang digambarkan oleh penari baris menjadikan garapan ini sangat klasik.

Dalam garapan seni berdurasi 45 menit itu tak hanya menampikan gerak-gerak yang indah, tetapi juga penuh makna.

Juga  didukung dengan kostum klasik yang dominan poleng. Meski dalam bentuk sajian seni tradisi, namun gerak tari yang lebih banyak dikreasikan itu menjadikan garapan ini bernuansa baru. Hal itu yang membedakan dengan garapan dramatari sebelumnya.

Iringannya menggunakan gamelan Semarandahana. Jenis gamelan dengan nada saih pitu itu dapat memberikan kesan Jawa ataupun Bali kuno. Misalnya dalam suasana di keraton, kerajaan, di hutan ataupun pada saat perang.

Dari cerita rakyat dari Bali ini menyampaikan jadilah orang yang mampu diandalkan dan mampu berkorban untuk kepentingan orang banyak.

Di samping itu, juga sebagai media pendidikan khususnya tentang sejarah adanya Nusa Dua. 

Kisahnya adalah berawal dari kecemasan hati Ratu Kerajaan Majapahit Diah Tribhuana Uttunggadewi, yang murka terhadap Kerajaan Bali karena tidak mau tinduk di bawah kekuasaan Majapahit.

Sang Prabhu Bali Pulina Sri Bedahulu yang didampingi patih sakti Ki Kebo Iwa terlampau kuat untuk dihadapi.

Namun, dengan upaya cerdik Mahapatih Gajah Mada, Patih Ki Kebo Iwa dapat diperdaya dan Kerajaan Bali pun menjadi mudah untuk ditaklukkan. Patih Ki Kebo Iwa  gugur bukan karena kalah, namun merelakan dirinya gugur demi cita-cita luhur, bersatunya Nusantara.(gek)

Artikel Lainnya

Terkini