Gede Pasek Temukan Fakta Mengejutkan dalam Konflik di Lampung

17 Maret 2016, 22:42 WIB

12814277 10209168989450525 669729848202919125 n

Kabarnusa.com
Dari penelusuran anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Gede Pasek
Suardika ke lokasi kerusuhan Kabupaten Tulang Bawang Barat Lampung
disimpulkan  bahwa konflik yang terjadi bukanlah karena SARA melainkan lebih pada aksi
premanisme.

Pasek dan rombongan turun di Kabupaten Tulang Bawang
Barat Lampung Rabu 16 Maret 2016, guna menelusuri apa yang sebenarnya
terjadi dalam konflik yang menewaskan sejumlah warga itu.

Dia
menghadiri pertemuan dengan Bupati, Kapolres, Kajari, Dandim, Inhutani
dan tokoh masyarakat asal Lampung Jawa dan Bali serta keluarga korban warga Dusun Terang Agung Tiyuh Terang Gunung
Kecamatan Gunung Terang.

“Peristiwa
itu bukanlah peristiwa SARA tetapi peristiwa ulah sadis preman terhadap
para petani penggarap di Register 44 HTI kementerian kehutanan,” tulis
Pasek dalam akun facebook Kamis (17/3/2016).

Kelompok preman
memeras dan mempalak, para petani penggarap, yang luas areal 32 ribu
hektar dan yang masuk Kabupaten Tulang Bawang Barat lebih 11 ribu hektar.

Diketahui,. ada tiga korban terbunuh dari etnis Bali dua orang dan etnis Jawa satu orang.

Kemudian, masyarakat petani melawan dan mengejar para preman yang ternyata bersenjatakan senjata api juga.

Massa tetap melawan dan akhirnya berhasil menyerang rumah preman-preman tersebut dan membakar serta merusaknya:

“Warga
asli Lampung yang ada juga tidak suka dengan ulah preman-preman
tersebut. Sehingga mereka tidak mendapatkan dukungan ketika upaya isu
SARA dikembangkan,” tegas Pasek.

Bahkan, Pasek, melanjutkan, baik warga Lampung, Bali dan Jawa bersatu melawan preman tersebut.

Dengan
begitu, upaya menarik ke isu SARA gagal. Karena tetap itu, isu
penculikan dan pembunuhan berencana oleh sekelompok preman.

Keluarga
korban meminta agar proses hukum harus ditegakkan sekaligus juga ada
aspirasi untuk bisa mereka bekerja dengan tenang di kawasan Register 44
HTI tersebut tanpa diganggu preman lagi.

Kata Pasek, saat ini
aparat sedang melengkapi alat bukti dan sudah ada 4 calon tersangka yang
kuat dan masih akan dikembangkan lagi karena diyakini jumlahnya lebih
banyak lagi.

Dia menengarai, kelompok Preman itu, memiliki jejaring sangat kuat, karena uang palak yang diambil bisa
mencapai miliaran rupiah.

“Satu hektar dipalak Rp 3 juta selain juga hasil singkongnya juga dipungut Rp 200-250 per kg,” sebutnya.

Dengan
melihat fakta-fakta itu, Pasek mengajak semua pihak, mendoakan
Kabupaten Tulang Bawang Barat mampu menjadi kabupaten baru yang nyaman
dan bisa mensejahterakan warganya termasuk juga warga asal Bali di sana.
(rhm)

Artikel Lainnya

Terkini