Inflasi Bali Februari 2026 Naik 0,70 Persen, Risiko Tekanan Harga Jelang Nyepi dan Idulfitri

Scara tahunan, inflasi Bali dari 2,58% (yoy) pada Januari naik menjadi 3,89% (yoy), dipengaruhi faktor base effect kebijakan kenaikan listrik.

3 Maret 2026, 22:45 WIB

Denpasar – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali merilis data inflasi Februari 2026 yang menunjukkan kenaikan sebesar 0,70% (mtm), setelah bulan sebelumnya mencatat deflasi -0,34% (mtm).

Kenaikan ini terutama dipicu oleh meningkatnya permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) serta berlanjutnya tren kenaikan harga emas dunia.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja mengungkapkan, secara tahunan, inflasi Bali melonjak dari 2,58% (yoy) pada Januari menjadi 3,89% (yoy), dipengaruhi faktor base effect dari kebijakan diskon tarif listrik tahun 2025.

Seluruh kabupaten/kota di Bali mengalami inflasi bulanan. Disebutkan, Badung mencatat inflasi tertinggi 1,04% (mtm) dengan inflasi tahunan 3,06% (yoy).

Singaraja menyusul dengan inflasi bulanan 0,77% dan tahunan 4,23%. Kota Denpasar mencatat inflasi bulanan 0,57% dan tahunan 4,33%, sementara Tabanan mengalami inflasi bulanan 0,48% dengan tahunan 3,57%.

“Kenaikan harga cabai rawit, daging ayam ras, emas perhiasan, dan cabai merah menjadi pendorong utama inflasi Februari,” tutur Erwin Soeriadimadja dalam keterangan tertulis 3 Maret 2026.

Namun, tekanan inflasi tertahan oleh penurunan harga bensin, wortel, daging babi, dan bawang putih.

Bank Indonesia Provinsi Bali menyoroti sejumlah risiko yang berpotensi menambah tekanan inflasi, antara lain tingginya permintaan barang dan jasa pada periode Nyepi dan Idulfitri, kenaikan harga emas global, serta dampak puncak musim hujan terhadap produksi pertanian, distribusi, dan sektor perikanan.

Menghadapi triwulan I 2026, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) diminta memperkuat sinergi menjaga stabilitas harga pangan, khususnya beras, hortikultura, dan daging ayam ras.

Kata Erwin, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah menekankan tiga pilar utama: menjaga pasokan, meningkatkan efisiensi distribusi, dan memperkuat regulasi.

Langkah strategis dilakukan melalui operasi pasar dengan prinsip 3T (tepat waktu, tepat lokasi, tepat sasaran), kerja sama antar daerah, serta perluasan ekosistem ketahanan pangan hulu-hilir dengan melibatkan BUMDes, Perumda pangan, dan koperasi.

Dengan strategi tersebut, inflasi Bali tahun 2026 diprakirakan tetap terjaga dalam sasaran 2,5%±1%. ***

Berita Lainnya

Terkini