Jelang Puasa, Presiden Jokowi Ingin Harga Komoditas Pangan Utama Turun

31 Mei 2016, 07:33 WIB
DSC02513
Joko Widodo (dok.kabarnusa)

Kabarnusa.com – Presiden Joko Widodo secara serius dan sungguh-sungguh ingin agar harga-harga pangan utama bisa turun bukan sebaliknya sebagaimaa image menjelang puasa dan lebaran yang selalu naik.

Hal itu disampaikan Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung melansir keinginan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang ingin membalikkan image bahwa kalau mau puasa dan lebaran selalu harga-harga itu naik.

Sekarang ini memang ada upaya dari pasar yang tentunya dengan tangan-tangan yang kuat ingin mempermainkan harga tersebut.

“Maka, Presiden sudah berulang kali memberikan instruksi, baik kepada Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan, Menteri BUMN, untuk beberapa komoditas utama itu harus bisa turun, bukan lagi harga stabil, karena harganya sudah tinggi, tetapi harga harus diturunkan,” kata Pramono kepada wartawan usai rapat terbatas, di kantor kepresidenan, Jakarta, Senin 30 Mei 2016.

Seskab menunjuk contoh, misalnya hari ini harga daging di pasaran sudah Rp 120.000/kg, bahkan sudah ada Rp 130.000.

“Presiden mematok bahwa harus bisa di bawah Rp 80.000/kg, demikian juga dengan harga gula yang sudah dibeberapa daerah bahkan sudah Rp15.000. Itu harus bisa turun seperti apa yang menjadi instruksi presiden,” tegasnya dikutip dari laman setkab.go.id.
Komoditas utama yang diperlukan pada saat puasa dan lebaran saat ini, seperti beras, gula, bawang merah, bawang putih, daging, daging ayam mauapun daging sapi atau ini itu harus turun.

Itu sebabnya Mentan tadi, akan mengimpor 10.00 ton daging? “Ya apapun, karena tidak memungkinkan kalau kemudian ini masih dikuasai oleh orang yang menguasai pasar pada saat ini.

Pasti harganya akan Rp 120.000 – Rp 130.000 seperti pada tahun lalu. Padahal presiden menginginkan harga itu Rp 80.000,” jelas Pramono.

Menurut Seskab Pramono, terkait caranya maka impor akan dibuka.

Ia mengingatkan,  Indonesia sudah mempunyai hubungan koneksi secara langsung baik dengan Australia, dengan New Zealand, dengan India dengan beberapa negara lainnya untuk bisa mendatangkan daging dengan harga sampai dengan konsumen bisa Rp 80.000/kg.

Pramono meyakini, upaya mengimpor daging sapi itu tidak akan mengganggu fiskal dalam negeri, karena ini tidak menggunakan APBN.

Selain itu juga mengikuti mekanisme pasar, sehingga BUMN atau siapapun yang akan melakukan impor pasti akan mendapatkan keuntungan.

Ia menyebutkan, harga impor memang murah, seperti di Australia hanya sekitar Rp 58.000/kg, sementara di Malaysia atau Singapura bisa dijual Rp 70.000 – Rp 75.000/kg. Karena itu, Seskab meyakini impor daging ini tidak akan mengganggu mekanisme pasar. (wan)

Artikel Lainnya

Terkini