Kembalikan ‘Subasito’ ke Sekolah: Cara Kulon Progo Tangkal Virus Radikalisme dan Judi Digital

Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, memimpin langsung deklarasi anti judi online (judol) dan radikalisme diikuti ratusan siswa.

6 Januari 2026, 07:22 WIB

Kulon Progo– Di tengah gempuran arus digital yang kian tak terbendung, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo mengambil langkah tegas untuk menyelamatkan masa depan generasi muda. Bertempat di SMA Negeri 1 Pengasih, Senin (5/1/2026), Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, memimpin langsung deklarasi anti judi online (judol) dan radikalisme yang diikuti dengan khidmat oleh ratusan siswa.

Langkah ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah respons darurat atas temuan fakta di lapangan yang cukup mengejutkan.

Bupati Agung mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil uji petik, terdapat indikasi kuat pelajar di wilayahnya mulai terpapar praktik perjudian, baik secara daring maupun konvensional.

Kemudahan akses melalui gadget yang sehari-hari digunakan untuk belajar justru menjadi pintu masuk bagi konten negatif.

“Paparan ini tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Judi online masuk secara terang-benderang ke genggaman anak-anak kita. Jika kita diam, karakter mereka taruhannya,” tegas Agung di hadapan para siswa.

Ia menekankan, membangun Kulon Progo tidak cukup hanya dengan memoles infrastruktur fisik. Fondasi utama daerah ini adalah Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan berkarakter.

Deklarasi ini membawa misi besar untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang bersih dari penyakit sosial. Tidak hanya judi dan radikalisme, komitmen ini juga mencakup perang terhadap:

Perundungan (Bullying) dan Rasisme

Minuman Keras & Narkotika

“Kita ingin menciptakan lingkungan di mana siswa merasa malu untuk merundung, malu untuk rasis, dan memiliki keberanian untuk berkata ‘tidak’ pada miras maupun judi online. Anak-anak harus kembali memegang teguh subasito dan toto kromo,” tambahnya.

Mengingat siswa SMA merupakan kelompok yang paling mahir teknologi, Pemkab Kulon Progo mendorong pengawasan yang lebih personal.

Bupati meminta peran aktif Komite Sekolah untuk menjembatani pesan ini kepada orang tua di rumah. Menurutnya, pengawasan melekat adalah kunci agar anak-anak tidak tersesat dalam belantara dunia maya.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kulon Progo, Pratiwi Ngasaratun, menjelaskan, deklarasi di SMA 1 Pengasih ini merupakan pemantik bagi gerakan yang lebih luas.

“Hari ini, bertepatan dengan hari pertama masuk sekolah, kami menginstruksikan seluruh SMP dan SMA di Kulon Progo untuk melaksanakan deklarasi serupa secara serentak,” jelas Pratiwi.

Kesbangpol juga telah menyiapkan langkah berkelanjutan, mulai dari pemberdayaan Ketua OSIS sebagai agen perubahan hingga pemanfaatan media populer seperti podcast.

Ke depan, Bupati dan Wakil Bupati dijadwalkan akan turun langsung ke sekolah-sekolah untuk memastikan gerakan ini tetap hidup dan tidak berhenti sebagai wacana di atas kertas.***

Berita Lainnya

Terkini